Minggu, 24 Juni 2012

SEJARAH TUBAN II

SEJARAH KOTA TUBAN II

 


A. Tuban Waktu Pemerintahan Airlangga

Airlangga jadi Raja Medang (1019-1041) sesudah negeri itu dirusakkan musuh. Kemudian Airlangga mendirikan keraton baru di Kahuripan. Kemakmuran rakyat diperhatikanya benar. Aliran Sungai Brantas diperbaikinya, sehingga perahu-perahu dapat berlabuh dengan tenang dan aman di Hujung Galuh, Pelabuhan Kahuripan yang makmur pada masa itu. Karena Hujung Galuh menjadi pelabuhan utama untuk penjagaan antar pulau, maka pelabuhan antar negara ditempatkan di Kambang Putih, yakni di atau dekat Tuban, yang sekarang. Oleh Airlangga diambil sejumlah tindakan untuk memajukan perniagaan di sana. Antara lain pembebasan dari beberapa jenis pajak. Orang-orang asing yang berdagang disana berasal dari jauh. Menurut daftar yang terdapat dalam prasasti-prasasti, Airlangga termasuk pedagang dari India Utara, India Selatan, Birma, Kamboja dan Campa. Hal yang menarik perhatian kita, ialah ketiadaan orang-orang Tionghwa dalam daftar tersebut.
Rupanya hal ini disebabkan karena Tiongkok, dimana peniagaan luar negeri menjadi urusan pemerintah, semata-mata berdagang dengan Sriwijaya seperti dahulu. Pelabuhan Tuban menurut pengaturan jalan-jalan menghubungkan kota tersebut dengan pusat negara yang mungkin sekali letaknya agak ke dalam, menurut keyakinan kami, di daerah Mojokerto. Sejumlah prasasti dari Zaman Airlangga yang didapat di daerah Babat, Ngimbang dan Ploso, menunjukan bahwa justru daerah melalui jalan dari Tuban ke Babat menuju ke Jombang mendapat perhatian yang besar dari Airlangga.

B. Buku Ying Yai Sheng Lan

Berita Tionghwa yang sangat penting, adalah uraian Ma Hua dalam bukunya Ying Yai Sheng Lan. Ma Huan adalah orang Tionghwa beragama Islam, yang mengiringi Cheng Ho dalam perjalanannya yang ketiga (1413-1415) ke daerah-daerah selatan. Kecuali soal-soal mengenai keadaan berbagai daerah yang berhubungan dengan kedudukan politiknya, yang sangat menarik perhatian adalah uraian Ma Huan tentang keadaan Kota Majapahit dan rakyatnya. Kalau orang pergi ke Jawa, katanya, kapal-kapal lebih dahulu sampai ke Tuban. Kemudian dengan melalui Gresik yang banyak penduduknya Tionghwa, orang tiba di Surabaya. Di sini orang pindah ke perahu-perahu kecil berlayar di Canggung. Melalui jalur darat, orang kemudian pergi kearah selatan dan tibalah orang di Mapajahit, tempat kediaman sang raja. Kotanya dikelilingi tembok tinggi yang dibuat dari bata, dan penduduknya sejumlah kira-kira 300 ribu orang. Sang raja kepalanya terbuka, atau tertutup dengan mahkota dengan emas, memakai kain dan selendang, tidak berterompah dan selalu membawa satu atau dua bilah keris. Kalau keluar ia naik gajah atau kereta yang ditarik oleh lembu. Rakyatnyapun memakai kain dan baju, dan tiap orang laki-laki mulai anak berumur 3 tahun memakai keris, yang hulunya indah sekali, terbuat dari emas, culah badak atau gading. Kalau mereka bertengkar sekejap saja mereka sudah siap dengan kerisnya. Mereka bisa makan sirih, senang mengadakan perang-perangan dengan tombak bambu pada perayaan-perayaan, suka bermain-main bersama waktu terang bulan dengan disertai nyayian-nyanyian berkelompok dan bergiliran antara wanita dan pria, gemar pula menonton wayang beber (wayang yang adegan-adegan ceritanya digambar di atas sehelai kain, kemudian dihentangkan antara dua belah kayu dan diceritakan isinya oleh dalang). Penduduk Majapahit terdiri atas tiga golongan : orang-orang Islam yang datang dari barat dan mendapat mata pencaharian di ibukota, orang Tionghwa yang banyak pula memeluk agama Islam dan rakyat selebihnya menyembah berhala dan tinggal bersama anjing mereka.

C. Buku Ling-Wai-Tai-Ta


Dari hasil kesusastraan dapat pula diketahui sedikit bagaimana keadaannya dalam Zaman Kediri. Tetapi masih menarik perhatian ialah keterangan-keterangan yang terdapat dalam berita-berita Tionghwa. Kitab Ling Wai Tai Ta yang disusun oleh Cho Ku Fei dalam tahun 1178 memberikan gambaran yang tidak didapat dari lain sumber tentang pemerintahan dan masyarakat Kediri. Dikatakan misalnya, bahwa orang-orang memakai kain sampai di bawah lutut, sedang rambutnya terurai.
Rumah-rumahnya sangat rapi dan bersih. Lantainya dari ubin yang berwarna hijau dan kuning. Pertanian, peternakan dan perdagangan mengalami kemajuan dan perhatian dari pemerintahpun ada pemeliharaan ulat sutra dan kapas. Hukuman badan tidak ada, orang yang bersalah didenda dan pembayarannya berupa emas, kecuali pencuri dan perampok yang dibunuh. Untuk perkawinan, keluarga anak perempuan menerima mas kawin berupa sejumlah emas, alat pembayaran adalah mata uang dari perak. Orang sakit tidak menggunakan obat, melainkan memohon sembuh kepada para dewa-dewa dan kepada Budha tiap bulan kedua diadakan pesta air, dan orang berperahu-perahu penuh kegembiraan : tiap bulan sepuluh perayaan berlangsung di gunung dan orang berduyun-duyun kesana untuk bersenang-senang. Alat-alat musiknya terdiri atas seruling, gendang dan gambang dari kayu.
Tentang sang raja sendiri dikatakan, bahwa ia berpakaian sutra, bersepatu kulit dan memakai perhiasan-perhiasan dari emas. Rambutnya sanggul di atas kepala. Setiap hari ia menerima pejabat-pejabat dan pengurus pemerintahan. Maka ia duduk di atas singgasana yang berbentuk segi empat. Sehabis sidang para pejabat itu menyembah tiga kali, baru mengundurkan diri. Jika raja keluar, naik gajah ataupun kereta, ia diiringi 500 sampai 700 orang prajurit dan rakyat ditepi jalan semuanya jongkok sampai raja lewat. Dalam pemeritahan sang raja dibantu oleh 4 orang menteri terkemuka, yaitu Rakryan Kanuruhan, Rakryan Mahamantri I Hulu, Rakryan Mahamantri I Rangga dan Rakryan Mahapatih. Mereka ini tidak menerima gaji tetap, tetapi pada waktu-waktu tertentu menerima hasil bumi atau lainnya. Selanjutnya pemerintahan dilakukan oleh 300 orang pegawai, yang memegang tata buku dan tata usaha : 1000 orang pegawai rendahan bertugas mengurus perbentengan, perbendaharaan negara, gudang-gudang persediaan dan keperluan-keperluan para prajurit. Panglima tentara setiap setengah tahun mendapat 10 tail emas dan para prajurit yang berjumlah 30.000 mendapat bayarannya setengah tahun sekali pula dan besarnya gaji sesuai dengan pangkatnya. Demikian keterangan yang kita peroleh dari sumber Tionghwa. Hal-hal tersebut juga terdapat dalam kita Chu-fan-chi oleh Chau-Ju-Kau tahun 1225. Dalam buku tersebut diceritakan juga, bahwa di Asia Tenggara ada dua kerajaan yang terkemuka dan terkaya, pertama ialah Jawa dan kedua Sriwijaya. Di Jawa ada dua macam agama yaitu agama Budha dan agama para petapa (maksudnya Hindhu). Rakyatnya lekas naik darah dan berani berperang, kesukaannya ialah mengadu ayam. Mata uangnya dibuat dari logam campuran tembaga, perak dan timah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar