sambil menunggu om admin,sumod and modie.
aye buka sedikit amalan untuk membuka mata bathin,yang gunanya untuk melihat makhluk halus dan kawan2,mengetahui isi hati dan fikiran manusia,tau sebelum terjadi yang dalam bahasa jawa di sebut,"WERUH SAJORONING WINARA" ma,af klo salah.
MEBUKA MATA BATIN
a,udzubillahiminassayitonnirojim.
bismillahirohmannirohiiim.
ya khobir ala ya,lamu man kholaqo wahuwal latiful khobir. 70x
laa tudrikuhul absoru wahuwa yudrikuhul absoro wahuwal latiful khobir70x
allohuma ya bathinu,ya bathinu,ya bathinu. 300x
istigfar 70x
sholawat nabi 70x
al-fatehah 1x
al-ikhlas 3x
al-falaq 1x
an-naas 1x
ayat kursy 10x
syahadat 1x
allohuma ya bathinu,berilah aku mu,jizat gahib dan karomah nya dari wirid yang aku amal kan ini ke dalam tubuh ku dan hatiku serta lindungilah aku dari kejahatan yang merusak. 1x
laaillaha illalah berulang-ulang (lebih banyak lebih bagus)
insya allah bila di restui berguna untuk;
-melihat hal2 yang ghaib/yang tidak bisa di lihat dengan mata lahir
-mengetahui segala rahasia atau perkara bathin
-mengetahui pikiran,perasa,an dan niat hati seseorang
-mengetahui peristiwa masa lalu dan masa yang akan terjadi…..
-insya alloh,amiiiin!……………
amalan ini tanpa puasa,hanya butruh keikhlasan dan kesabaran,serta tawakal pada allah.
maaf!……….
tidak untuk di ijazah kan,hanya sebagai pengetahuan saja
Rabu, 25 Juli 2012
Minggu, 24 Juni 2012
SEJARAH TUBAN IV
SEJARAH KOTA TUBAN IV
Yang menjadi permulaan ceritera sejarah ini ialah pada waktu Negara
Pajajaran yang semula berpusat dekat Ciamis, diperintah oleh seorang
raja yang bernama Prabu Banjaransari.
Pada waktu sang Prabu
Banjaransari ini memerintah, keadaan Negara Pajajaran aman sejahtera dan
rakyatnya hidup makmur, sehingga nama sang Prabu Banjaransari
termasyhur bukan saja di dalam negeri, tetapi juga sampai di luar
negeri.
Sang Prabu Banjaransari mempunyai banyak putra, akan tetapi
sebagai pokok pangkal sejarah Tuban ini kita mengambil salah satu di
antara para putra sang Prabu Banjaransari tersebut, yakni Raden Arya
Metahun, yang kelak menurunkan para Bupati Tuban. Sang Prabu
Banjaransari berputra Raden Arya Metahun. Raden Arya Metahun berputra
Raden Arya Randu Kuning.
I. Kabupaten Lumajang Tengah
Raden
Arya Randu Kuning ini mengembara ke arah timur, dengan seizin neneknya
yakni sang Prabu Banjaransari. Sampai di sebelah utara Kalakwilis
Kecamatan Jenu Tuban. Raden Arya Randu Kuning menghentikan
pengembarannya, dan kemudian membuka Hutan Srikandi yang terletak di
tepi pantai dekat Gunung Kalakwilis untuk dijelmakan menjadi sebuah
negara. Berkat keinginan dan kemauannya untuk menjadi bupati disertai
dengan bekerja keras, maka lama-lama Hutan Srikandi menjadi sebuah
perkampungan, yang akhirnya menjadi sebuah kabupaten yang diberi nama
Kabupaten Lumajang Tengah dengan Raden Arya Randu Kuning sebagai
bupatinya, yang kemudian bergelar Kyai Ageng (Kyai Gede Lebe Lontong +
permulaan abad 12).
Alkisah ketika Kyai Gede Lebe Lontang menjadi
Bupati Lumajang Tengah negara dalam keadaan aman, sentosa, gemah ripah
loh jinawi, rakyat hidup makmur. Itu semuanya berkat kebijaksanaan dan
kesaktian yang menimbulkan pribawa pribadi sang Bupati Lebe Lontang yang
diperoleh dengan melakukan yoga, dan selalu berikhtiar dengan
menggunakan daya kekuatannya agar kerajaan dan rakyatnya selalu hidup
makmur, aman dan sejahtera.
Bekas wilayah Lumajang Tengah didapat
kembali dalam hutan sebelah timur laut tempat pemberhentian Kereta Pos
Bogang (Kecamatan Jenu).
Kyai Ageng Lebe Lontang ini menjadi bupati di Lumajang Tengah lamanya 22 tahun.
II. Kabupaten Gumenggeng
Kyai
Ageng Lebe Lontang berputra seorang bernama Raden Arya Bangah, yang
mempunyai kesaktian lebih dari ayahnya, lagi pula mempunyai paras yang
elok, sehingga para gadis remaja jatuh cinta dengan tidak disadari oleh
Arya Bangah.
Akan tetapi setelah ayahnya mangkat, Raden Arya Bangah
tidak mau diangkat menjadi Bupati Lumajang Tengah menggantikan ayahnya,
tetapi Raden Arya Bangah mempunyai keinginan keras akan mendirikan
kabupaten sendiri. Akhirnya diputuskan pergi mengembara menuju ke arah
selatan dengan diikuti keluarga dan rakyatnya. Setelah sampai di kaki
gunung Rengel, Raden Arya Bangah beserta pengikutnya menghentikan
perjalanan. Dan kemudian membuka hutan akan dijadikan perkampungan.
Lama-lama
perkampungan tersebut menjadi sebuah kabupaten yang diberi nama
Gumenggeng. Sebagaimana ayahnya, Kabupaten Gumenggeng ini menjadi
kabupaten yang aman sejahtera, dan rakyatnya hidup tenang dan makmur.
Bekas kabupaten tersebut sekarang menjadi Desa Banjaragung (Kecamatan
Rengel).
Raden Arya Bangah mempunyai seorang putra bernama Arya
Dandang Miring. Setelah memerintah 22 tahun, Raden Arya Bangah mangkat.
Semasa hidup ayahnya, Redan, Arya Dandang Miring ini suka bertapa,
kadang-kadang mengembara di tempat-tempat yang sunyi, dengan maksud
minta kepada para dewata, agar keturunannya kelak dapat menjadi bupati
prajurit dan negara yang akan diperintahnya selalu dalam keadaan aman
tenteram, lagi pula rakyatnya dapat hidup makmur. Karena sangat kuat dan
tabahnya Raden Arya Dandang Miring menyatukan cipta dan kehendaknya,
akhirnya permintaannya dikabulkan oleh dewata yang mulia dan dalam
bersamadi, Raden Arya Dandang Miring mendapatkan ilham yaitu : Semangkat
ayahnya kelak, ia tidak diperkenankan menjadi bupati di Gumenggeng,
sebab kalau tetap menjadi bupati di Gumenggeng, apa yang dicita-citakan
tidak akan tercapai. Untuk mencapai cita-cita itu ia harus membuka hutan
sendiri yang letaknya di sebelah barat laut dari Kabupaten Gumenggeng,
dan lagi kabupaten tersebut hanya khusus untuk Raden Arya Dandang Miring
sendiri. Permintaannya baru terkabul jika putranya kelak membuka hutan
yang bernama Papringan dan setelah dibuka, supaya diberi nama Tuban. Dan
putranya itulah kelak yang dapat menurunkan para Bupati Tuban turun
temurun dan Kabupaten Tuban akan menjadi kabupaten yang aman tenteram,
lagi rakyatnya hidup makmur sesuai dengan permintaannya, juga akan
menjadi tempat peristirahatan (makam) para wali atau para aulia dari
Negeri Arab, kalau sudah tiba waktunya. Zaman itu adalah zaman masuknya
kebudayaan Hindu di Pulau Nusantara dan menurut ramalan itu, kelak Tuban
akan memasuki babak baru dimana agama Islam mulai berkembang (3 abad
kemudian yaitu abad 15). Perintah Dewata yang mulia (ilham) yang
diterima itu, dilaksanakan oleh Raden Arya Dandang Miring.
III. Kabupaten Lumajang
Oleh
karenanya setelah ayahnya mangkat Raden Dandang Miring tidak mau
menggantikan ayahnya menjadi Bupati Gumenggeng, akan tetapi
memerintahkan kepada semua penggawa dan rakyatnya membuka hutan yang
bernama Ancer yang letaknya di sebelah barat laut Kabupaten Gumenggeng.
Setelah pembukaan hutan tersebut selesai, lalu diberi nama Lumajang.
Raden Arya Dandang Miring berputra seorang yang diberi nama Raden
Dandang Wacana, parasnya sangat bagus, sakti lagi berbudi maha pendeta
utama, dengan demikian sangat dikasihi oleh rakyatnya. Sedang Bupati
Raden Arya Dandang Miring memerintah Negara Lumajang dengan aman
sentosa, rakyat dan penggawa sangat kasih kepada beliau. Negara dan
rakyat dalam keadaan aman sentosa, sehingga penduduknya tidak mengenal
pencuri dan kekurangan. Setelah Raden Arya Dandang Miring memerintah
Lumajang selama 20 tahun, kemudian mangkat. Sebelum beliau mangkat,
beliau berpesan kepada putranya Raden Arya Dandang Wacana supaya
melakukan ilham yang diterima dari dewata mulia, yakni membuka Hutan
Papringan untuk dijadikan negara.
Semangat ayahnya, Raden Arya
Dandang Wacana melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Rakyat
beserta penggawa Kabupaten Lumajang, diperintahkan membuka Hutan
Papringan dan setelah pembukaan tersebut selesai, kemudian diberi nama
Tuban.
IV. Kabupaten Tuban
Pada waktu pembukaan Hutan
Papringan, keluarlah dengan tidak terduga Sumber Air, Metu Banyu (bahasa
Jawa) yang kemudian disingkat menjadi Tu-Ban, merupakan nama wilayah
kabupaten yang spontan diberikan oleh Raden Arya Dandang Wacana, sumber
air ini sangat sejuk dan meskipun terletak di tepi pantai utara Pulau
Jawa, mata air tadi tidak bergaram, lain halnya dengan pantai kota-kota
lainnya.
Bupati ke I
Dalam pemerintahan Raden Arya Dandang
Wacana negara dan rakyat selalu dalam keadaan aman dan sejahtera,
pencuri perampok tidak dikenal oleh penduduk. Sandang pangan
berlimpah-limpah, penduduk tak pernah merasa kekurangan. Siang malam
selalu ramai, hampir tak ada bedanya. Oleh karena itu penduduk sangat
cinta dan kasih kepada sang Bupati Raden Arya Dandang Wacana.
Setelah
3 tahun memegang pemerintahan Raden Arya Dandang Wacana memerintahkan
membuat Pesanggrahan. Pesanggrahan ini dikelilingi parit dan kolam,
ditanami dengan aneka macam pohon yang menyebabkan Pesanggrahan tersebut
rindang dan membuat pemandangan yang sangat indah dan menarik.
Pesanggrahan tersebut kini diberi nama “Bekti” dan nama ini diambilkan
dari kata “Pangabekti” (bahasa Jawa). Sebab jika sang Bupati Raden Arya
Dandang Wacana sedang beristirahat di Pesanggrahan tersebut, banyak
penggawa dan rakyat yang berdatang sembah (mengabekti). Dan sekarang
Pesanggrahan dan desa tersebut namanya menjadi “Bektiharjo” (Harjo =
rejo, banyak pengunjung). Perlu diketahui bahwa Raden Arya Dandang
Wacana juga berganti nama Kyai Gede Papringan. Setelah memerintah 20
tahun Bupati Dandang Wacana mangkat, jenazahnya dimakamkan di dekat
Kaligunting Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding.
Kabupaten
Tuban yang tersebut pertama tadi, sekarang menjadi 3 desa yakni : “Dukuh
Trowulan, Desa Prunggahan Kulon dan Desa Prunggahan Wetan.” Hingga
sekarang para wanita kelahiran 3 desa tersebut, terkenal akan
kecantikannya dan terdapat ciri khas yakni “dekik” (bahasa Jawa) pada
pipinya. Kecantikan wanita-wanita tersebut bagaikan bidadari yang
mengejawantah, oleh karena itu para pemuda boleh pilih untuk dijadikan
teman hidupnya. Agar mudah diingat, para bupati yang pernah memerintah
dalam Kabupaten Tuban, kami beri nomor urut.
Bupati pertama dari
Kabupaten Tuban ialah Raden Arya Dandang Wacana (Kyai Ageng Papringan,
sebab Raden Arya Dandang Wacanalah yang mendirikan kabupaten dengan nama
Tuban. Menurut babad Tuban karangan E.J. Jasper, Tuban merupakan daerah
Andahan, (vazalstaat) dari Majapahit, sejak Arya Dikara menjadi Bupati
Tuban, bupati yang terakhir ini (yang ke 6 dari daftar Bupati Tuban)
setelah mempunyai menantu Syeh Ngabdur¬rahman, kemudian memeluk agama
Islam (abad ke15). Kyai Ageng Papringan berputra 2 orang, yakni Nyai
Ageng Lanang Jaya dan Nyai Ageng Ngeksa. Nyai Ageng Lanang Jaya berputra
seorang yang diberi nama Raden Ronggolawe, Nyai Ageng Ngeksa berputra
seorang yang diberi nama Raden Arya Kebo Anabrang.
Bupati ke II
Setelah
neneknya mangkat (Kyai Ageng Papringan) yang menggantikan jadi bupati
yakni cucunya Raden Hariyo Ronggolawe. Setelah Raden Hariyo Ronggolawe
memegang tampuk pemerintahan, rumah kabupaten dipindah sebelah barat
Guwo Akbar. Bekas kabupaten sekarang dipergunakan untuk makam Bakung
Kecamatan Semanding).
Bupati ke III
Sesudah Raden Ronggolawe
mangkat, Raden Sirolawe menggantikan ayahnya menjadi Bupati Tuban.
Beliau memerintah selama 15 tahun dan mangkat.
Bupati ke IV
Raden
Hariyo Sirolawe berputra seorang bernama Raden Hariyo Sirowenang dan
setelah ayahnya mangkat ia menjadi bupati. Pemerintahan Sirolawe
berlangsung selama 43 tahun.
Bupati ke V
Setelah Raden Hariyo
Sirowenang mangkat, diganti oleh puteranya, Raden Hariyo Lena.
Pemerintahan berlangsung selama + 52 tahun dan pada pemerintahannya
rumah kabupaten dipindahkan ke Desa Doromukti (Kecamatan Kota Tuban).
Bupati ke VI
Setelah
mangkatnya Raden Hariyo Leno, Raden Hariyo Dikara puteranya
menggantikan menjadi bupati. Beliau memerintah selama 18 tahun dan
kabupatennya berdiri tetap di Desa Doromukti. Beliau mempunyai putera 2
orang yakni : Raden Ayu Hariyo Tejo dan Kyai Ageng Ngraseh. Kemudian
Raden Ayu Hariyo Tejo menjadi isteri Syeh Ngabdurahman, putera Syeh
Jali/Syeh Jalaludin/Kyai Makam Dawa/Ngalimurtala dari Gresik (saudara
Sunan Ngampel). Sejak pemerintahan Bupati Raden Dikara, Bupati Tuban
memeluk agama Islam.
Bupati ke VII
Setelah Bupati Raden Hariyo
Dikara mangkat yang menggan¬tikan menantunya Syeh Ngabdurahman dan
kemudian berganti nama Raden Hariyo Tejo. Beliau memerintah selama + 41
tahun (tahun 1460). Dibawah pemerintahan Bupati Raden Hariyo Tejo
inilah, maka Tuban sebagai daerah andalan Majapahit, turut memberontak
membantu Raden Patah melawan Brawijaya. Majapahit jatuh kedalam
kekuasaan Raden Patah tahun 1478, yang kemudian menjadi Sultan Demak dan
sejak itu Tuban ada di bawah Demak.
Bupati ke VIII
Raden Hariyo
Tejo mempunyai seorang putera yang diberi nama Raden Hariyo Wilatikta
dan setelah ayahnya mangkat, beliau yang menggantikan. Pemerintahan
Bupati Hariyo Wilatikta ini berlangsung selama + 40 tahun.
Bupati ke IX
Setelah
Raden Hariyo Wilatikta mangkat, yang menggantikan menjadi bupati ialah
Kyai Ageng Ngraseh, yang kemudian kawin dengan Putera Raden Hariyo
Wilatikta. Setelah memerintah + 40 tahun mangkat.
Bupati ke X
Perkawinan
Kyai Ageng Ngraseh dengan putra putri Raden Hariyo Wilatikta berputera
seorang yang diberi nama Kyai Ageng Gegilang yang kemudian menggantikan
ayahnya. Pemerintahannya berlangsung selama + 38 tahun.
Bupati ke XI
Penggantian
Kyai Ageng Gegilang ialah yang bernama Kyai Ageng Batabang. Beliau
mangkat setelah memerintah selama 14 tahun lamanya.
Bupati ke XII
Pengganti
Bupati Kyai Ageng Batabang ini putra tunggalnya ialah Raden Hariyo
Balewot. Beliau memerintah selama + 56 tahun kemudian mangkat.
Bupati ke XIII
Bupati
Hariyo Balewot mempunyai 2 orang putra yakni Pangeran Sekartanjung dan
Pangeran Ngangsar. Setelah Bupati Raden Hariyo Balewot mangkat yang
menggantikan ialah puteranya sulung yaitu Pangeran Sekartanjung.
Bupati
ini terbunuh waktu beliau sedang bersembahyang Jum’at dengan ditusuk
Pusaka Lilam Upih yang bernama Kyai Loyan dari belakang oleh adiknya
yaitu Pangeran Ngangsar. Tusukan ini menembus punggung dan dada dan
akhirnya Bupati Pangeran Sekartanjung mangkat. Pemerintahannya
berlangsung selama + 22 tahun dan mempunyai putra 2 orang yaitu Pangeran
Hariyo Permalat dan Hariyo Salampe, waktu ayahnya mangkat kedua
putranya masih kecil.
Bupati ke XIV
Pengganti Bupati Pangeran Sekartanjung ialah adiknya Pangeran Ngangsar. Baru memerintah 7 tahun beliau mangkat.
Bupati ke XV
Setelah
Bupati Pangeran Ngangsar mangkat, yang menggantikan ialah Pangeran
Hariyo Permalat, sekira pada tahun 1568 bupati ini kemudian kawin dengan
putra putri Kanjeng Sultan Pajang (Raden Jaka Tingkir), Raden Jaka
Tingkir menjadi Sultan Pajang tahun 1568 dan Tuban termasuk daerah
kekuasaannya.
Beliau mempunyai seorang putra diberi nama Pangeran
Dalem. Setelah memerintah selama + 38 tahun kemudian mangkat, pada masa
itu Pangeran Dalem masih kecil.
Bupati ke XVI
Karena Pangeran
Dalem masih kecil, maka yang menggantikan Bupati Pangeran Hariyo
Permalat ialah Hariyo Salampe. Pemerintahan bupati ini berlangsung
selama + 32 tahun dan kemudian mangkat.
Bupati ke XVII
Setelah
Bupati Hariyo Salampe mangkat, digantikan oleh Pangeran Dalem. Pada
masa pemerintahan, beliau memindah rumah kabupaten ke Kampung Dagan
(Kota Tuban) sebelah selatan Watu tiban. Di samping itu beliau
mendirikan masjid dan benteng di luar kota, terletak di Guwo Akbar
membujur dari timur ke barat. Pembuatan benteng ini, Kyai Mohammad
Asngari yang ditugaskan, sebagian dari benteng ternyata belum dapat
diselesaikan pada waktunya. Dan ketika hal ini diketahui oleh Bupati
Pangeran Dalem, Kyai Mohamad Asngari dipanggil menghadap ke kabupaten.
Setelah Kyai Mohamad Asngari menghadap, Bupati Pangeran Dalem
memerintahkan agar benteng tersebut lekas dapat, diselesaikan, dan
bilamana tidak, Kyai Mohammad Asngari akan menerima hukuman, hal mana
disanggupi. Dengan hati sedih Kyai pulang dan pada malam harinya ia
bersamadi. Permintaannya, dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa dan pada pagi
harinya benteng yang dimaksud telah jadi dengan megahnya. Hal mana
sangat mengagumkan penduduk di sekitarnya juga Bupati Pangeran Dalem.
Karena indah lagi besar, maka benteng tersebut oleh Pangeran Dalem
diberi nama Benteng Kumbakarna. Dan sejak itu pulalah maka Kyai Mohammad
Asngari termashur karena kesaktian ilmunya.
Hal pembuatan benteng
terdengar juga oleh Sultan Mataram Hanyakra Kusuma saudara dari
Martadipura putra dari Panembahan Seda Krapyak (Panembahan Seda Krapyak
putra dari Sutawijaya), dan diketahui pula bahwa Bupati Pangeran Dalem
akan melepaskan diri dari Sultan Mataram (1614). Hal tersebut dapat
diketahui oleh Sri Sultan dengan bukti Benteng Kumbakarna yang didirikan
oleh Bupati Pangeran Dalem. Untuk membuktikan dugaan tersebut Sri
Sultan secara diam-diam mengirimkan utusan ke Tuban untuk menyelidiki
akan kebenarannya. Yang mendapat tugas menjadi mata-mata ialah Kyai
Randu Watang. Dalam menjalankan tugas mata-mata tersebut, Kyai Randu
Watang setibanya di Tuban menanam 2 batang pohon randu alas sebagai
tanda bukti bahwa Kyai Randu Watang telah sampai di Tuban. Tugas yang
diberikan oleh Sri Sultan dapat dilaksanakan dengan baik, dan dapat
diketahui olehnya bahwa benar-benar Bupati Pangeran Dalem ingin
melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Kemudian ia lekas-lekas kembali
ke Mataram untuk melaporkan hal tersebut kepada Sri Sultan. Setelah Sri
Sultan mendengarkan laporan itu beliau sangat murka. Untuk mencegah
maksud Bupati Pangeran Dalem tersebut, Sri Sultan mengirimkan 35.000
orang prajurit yang dipimpin oleh Pangeran Pojok ke Tuban.
Sebaliknya
Bupati Pangeran Dalem setelah mendengar bahwa Prajurit Mataram akan
menyerang Tuban, beliau memerintahkan kepada semua prajurit berjaga-jaga
akan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kedatangan prajurit-prajurit
Mataram disambut dengan pertempuran oleh Prajurit Tuban. Pertumpahan
darah terjadi, dan kedua belah pihak menderita kerugian yang besar.
Mula-mula prajurit-prajurit Tuban disemua medan mendapat kemenangan,
tetapi karena jumlah prajurit Mataram lebih banyak, maka akhirnya
Prajurit Tuban banyak yang lari dan menyerah (1619). Setelah diketahui
bahwa Prajurit Tuban banyak yang lari dan menyerah Bupati Pangeran Dalem
melarikan diri ke Pulau Bawean. Tetapi di Pulau Bawean beliau tidak
lama tinggal kemudian pergi ke Desa Rajekwesi (Bojonegoro sekarang).
Pada waktu itu Rajekwesi masih merupakan hutan dan di bawah pemerintahan
Jipang Panolan. Setelah menetap 5 tahun lamanya di Rajekwesi, Pangeran
Dalem mangkat dan dimakamkan di Desa Kadipaten terletak di sebelah timur
Kota Bojonegoro.
Hingga kini makam tersebut masih ada, terkenal
dengan nama makam Buyut Dalem. Pada waktu peperangan sedang berkobar,
meriam pusaka Kyai Sidomurti yang ditempatkan di Desa Kepohdondong
(Palang) hilang tak berbekas. Menurut E.J. Jasper, meriam tersebut asal
hadiah dari Portugis atau dari Belanda dan jatuh di tangan Tentara
Mataram. Setelah peperangan berakhir dengan kekalahan Tuban, Pangeran
Pojok segera memberi laporan kepada Sri Sultan. Atas perintah Sri
Sultan, Pangeran Pojok diizinkan menjadi bupati di Tuban.
Bupati ke XVIII
Pangeran
Pojok memegang pemerintahan selama + 42 tahun. Pada Hari Gerebeg Maulud
tahun Dal semua bupati di seluruh tanah Jawa datang ke Mataram untuk
menghadap Sri Sultan. Demikian pula halnya dengan Bupati Pangeran Pojok.
Tetapi ketika perjalanan beliau menuju Mataram sampai Blora, beliau
mendadak sakit dan mangkat di situ juga. Jenazahnya dimakamkan di
sebelah selatan alun-alun Blora. Pada waktu beliau mangkat para putra
masih kecil, oleh karena itu tidak dapat menggantikan jadi bupati.
Bupati ke XIX
Penggantinya
ialah Pangeran Anom adik Pangeran Pojok. Dan setelah Pangeran Anom
memegang pemerintahan selama 12 tahun atas perintah Sri Sultan, Pangeran
Anom diberhentikan dari jabatan. Di Kabupaten Tuban untuk sementara
waktu, jabatan bupati ditiadakan dan hanya diberi perwakilan (Umbul) 4
orang yakni : 1. Wongsoprojo bertempat di Jenu, 2. Wongsohito bertempat
di Gresik, 3. Wongsocokro di Kidulngardi, 4. Yudoputro bertempat di
Singgahan.
Bupati ke XX
Selanjutnya yang jadi bupati ialah
Pangeran Sujokopuro atau Yudonegoro dan kabupaten bertempat di
Prunggahan Kulon (Kecamatan Semanding).
Bupati ke XXI
Untuk
mengisi lowongan jabatan bupati di Tuban, setelah Yudonegoro, oleh Sri
Sultan diangkat Arya Balabar atau Arya Blender asal dari Mataram. Dan
pemerintahan Arya Blender, rumah kabupaten dipindahkan ke Kampung
Kaibon yang terletak di sebelah selatan makam Kyai Kusen (Kota Tuban).
Beliau mangkat setelah memerintah + 39 tahun, membuat masjid sebelah
barat makam Sunan Bonang.
Bupati ke XXII
Pengganti Bupati Arya
Balabar ialah Pangeran Sujonoputro, Bupati Japanan (Mojokerto). Pada
masa pemerintahan bupati ini rumah kabupaten dipindahkan ke Desa
Prunggahan (Semanding), pemerintahan beliau berlangsung selama 10 tahun,
kemudian mangkat dan dimakamkan di Desa Boto.
Bupati ke XXIII
Yang menggantikan ialah Putra Pangeran Judonegoro. Beliau mangkat setelah memerintah 15 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Giri.
Bupati ke XXIV
Setelah
Bupati Pangeran Yudonegoro mangkat, penggantinya adalah Raden Arya
Surodiningrat, bupati dari Pekalongan. Pada masa pemerintahan Raden Arya
Surodiningrat, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Arya
Diposono dan dibantu oleh Kyai Mangunjoyo asal dari Madura. Bupati Arya
Surodiningrat mangkat dalam peperangan melawan kaum pemberontak setelah
memegang pemerintahan selama 12 tahun lamanya.
Bupati ke XXV
Setelah
dapat mengalahkan Bupati Raden Arya Suryodiningrat, Raden Aryo Diposono
menggantikan jadi bupati. Setelah 16 tahun lamanya beliau memerintah
Kabupaten Tuban, terjadilah peperangan melawan orang Madura. Peperangan
ini berlangsung di Desa Singkul atau Sedayu. Raden Aryo Diposono mangkat
dalam peperangan ini. Jenazahnya dimakamkan di Desa Singkul juga.
Bupati ke XXVI
Kyai
Reksonegoro Patih Tuban setelah itu menjadi bupati berganti nama Kyai
Tumenggung Cokronegoro. Mangkat setelah memerintah selama 47 tahun.
Jenazahnya dimakamkan di Desa Dagangan (Kecamatan Parengan). Karena
banyak berjasa kepada negara, Kyai Tumenggung Cokronegoro diberi pangkat
kehormatan “Adipati”, Menurut J.E. Jasper tahun 1773 Gubernur van de
Burgh mengusulkan pada Sultan Mataram supaya Bupati Tuban Mas
Reksonegoro atau Mas Tumenggung Cokronegoro dipecat, karena
pemerintahannya memberatkan penduduk dan tak dapat memenuhi tugasnya
membayar upeti pada pemerintahan Belanda.
Bupati ke XXVII
Pengganti
Adipati Cokronegoro ialah putranya yakni Kyai Purwonegoro. Ketika
pemerintahan Bupati Purwonegoro ini berlangsung + 24 tahun, beliau sakit
dan mengambil perlop atau cuti dan pergi ke Demak. Sakit beliau tidak
berkurang, bahkan makin parah, akhirnya mangkat dan jenazahnya
dimakamkan di Demak juga. Bupati Purwonegoro juga terkenal dengan
sebutan Bupati Perlop, yakni asal dari kata “perlop” atau “cuti”.
Bupati ke XXVIII
Setelah
Bupati Purwonegoro mangkat, penggantinya ialah Bupati Kyai Lieder
Surodinegoro (Lieder = Ridder in de Orde van Oranje Nassau = nama
bintang jasa). Pemerintahan Bupati Kyai Lieder Surodinegoro ini hanya
berlangsung selama 3 tahun dan kemudian mangkat.
Bupati ke XXIX
Setelah
Bupati Lieder Suryoadiwijoyo mangkat, diganti oleh putranya, yakni
Raden Suryoadiwijoyo atau Raden Tumenggung Suryodinegoro. Pada masa
pemerintahannya beliau memerintahkan memindah rumah kabupaten ke Kampung
Gowah (Desa Sendangharjo Tuban). Pembuatan rumah kabupaten ini dapat
diselesaikan pada tanggal 1 Juli 1814. Pemerintahan Bupati Raden
Suryoadinegoro ini berlangsung selama 12 tahun dan berhenti.
Bupati ke XXX
Pengganti
Bupati Raden Suryoadinegoro ini adalah Bupati Pangeran Citrasoma ke VI,
asal Bupati Jepara atau nomor VI urutan dari Jepara. Pemerintahan
Bupati Pangeran Citrasoma ke VI ha¬nya berlangsung selama 6 tahun,
kemudian dipindahkan ke Lasem. Selama 3 tahun, terus dipindahkan lagi ke
Jepara. Pembuatan ru¬mah kabupaten tahun 1821, yang menjadi tempat
kediaman para bupati sampai sekarang.
Bupati ke XXXI
Pengganti
Bupati Pangeran Citrasoma ke VI ini ialah Bupati Pangeran Citrasoma ke
VII atau dihitung dari Tuban, Citrasoma II. Setelah memerintah selama 20
tahun mangkat.
Bupati ke XXXII
Pengganti Bupati Citrasoma ke
VII ialah Bupati Pangeran Citrasoma ke VIII atau dari Tuban ke III.
Memerintah selama 20 tahun, kemudian pensiun.
Bupati ke XXXIII
Pengganti
Bupati Pangeran Citrasoma ke VIII, ialah Bupati Raden Tumenggung Panji
Citrasoma ke IX atau Tuban ke IV, setelah memerintah 22 tahun kemudian
dipensiun.
Bupati ke XXXIV
Setelah Bupati Raden Tumenggung
Citrasoma ke IX pensiun, diganti oleh Raden Mas Somobroto tahun 1892,
setelah memerintah 4 bulan mangkat, jenazahnya dimakamkan di makam
Astana Bonang.
Bupati ke XXXV
Setelah Raden Mas Tumenggung
Somobroto mangkat diganti oleh menantunya ialah Raden Adipati Arya
Kusumodigdo. Beliau mangkat setelah memerintah selama 16 tahun dan
jenazahnya dimakamkan di Astana Makampati Tuban (tahun 1893¬1911).
Bupati ke XXXVI
Pengganti
Raden Adipati Arya Kusumodigdo kakaknya Raden Tumenggung Pringgowinoto
asal Patih Rembang 1911-1919. Pada tahun 1920 di Tuban dimulai jalan
Kereta Api NIS.
BUPATI KE XXXVII : R.AA. PRINGGODIGDO/KUSUMODININGRTA 1919-1927
BUPATI KE XXXVIII : R.M.A.A. KUSUMOBROTO 1927-1944
BUPATI KE XXXIX : R.T. SUDIMAN HADIATMODJO 1944-1946
BUPATI KE XL : R.H. Mustain 1946-1956
BUPATI KE XLI : R. Sundaru 1956-1958
BUPATI KE XLII : R. Istomo 1958-1960
BUPATI KE XLIII : M. Widagdo 1960-1968
BUPATI KE XLIV : R. Soeparmo 1968-1970 (p.d.) (Penyusun Catatan Sejarah Tuban)
BUPATI KE XLV : R. H. Irchamni 1970-1975
BUPATI KE XLVI : H. Moch. Masdoeki 1975-1980
BUPATI KE XLVII : Surati Moersam 1980 - 1985
BUPATI KE XLVIII : Drs. Djoewahiri Marto Prawiro 1985 - 1991
BUPATI KE XLIX : Drs. H. Sjoekoer Soetomo 1991-
BUPATI KE XLX : Hindarto 1996 - 2001
BUPATI KE XLXI : Dra. Haeny Relawati Rini Widiastuti, MSi 2001 - sampai sekarang
SEJARAH TUBAN III
SEJARAH KOTA TUBAN III
Pada waktu Prabu Brawijaya ke VII atau Ongkowijoyo VII bertahta selaku
raja di Majapahit, (raja-raja yang dahulu juga dinamakan Brawijaya),
Tuban jadi andalan Majapahit. Prabu Brawijaya kawin dengan Dwarmawati
Putri Prabu Campa, suatu kerajaan di Kamboja. Pada waktu Brawijaya
memerintah di Majapahit. Tuban merupakan bawahan dari padanya, di daerah
Tuban berkuasa berturut-turut para Bupati, Aryo Randu Kuning, Aryo
Bangah, Aryo Dandang Miring, Aryo Dandang Wacono, Aryo Ronggolawe, Aryo
Sirolawe, Aryo Wenang, Aryo Leno, dan Aryo Dikoro, yang menurut sejarah
memerintah sejak tahun 1200 hingga datangnya agama Islam ditanah Jawa
pada permulaan abad ke XV.
Pada waktu Brawijaya (Wikramawardhana) memerintah, datanglah para penyiar agama Islam ditanah Jawa. Mereka adalah :
1. Maulana Malik Ibrahim menetap di Laren (kurang lebih 6 pal dari Gresik). Wafat tahun 1419 dan dimakamkan di Gresik.
2. Raden Rahmat anak dari Raja Campa (putri lain dari Raja Campa
yaitu Dwarmawati kawin dengan Brawijaya, dengan demikian pernah paman R.
Rahmat) Raden Rahmat menetap di Ampel (Surabaya) (dan mendapatkan nama
Sunan Ngampel). Wafat tahun 1467 dan dimakamkan di Ngampel.
3. Pangeran Paku, anak dari Putri Blambangan (dekat Banyuwangi) dan
menetap di Giri. Wafat pada tahun 1483 dan dimakamkan di Giri.
4. Mahdum Ibrahim, Putra Raden Rahmat (Sunan Ngampel) menetap di
Bonang (dekat Lasem) dan dinamakan Sunan Bonang. Dari Desa Pantai
Bonang, beliau memperluas agama Islam kejurusan Tuban. Dapat dipercaya,
sejarah yang menjelaskan bahwa beliau datang dari Tuban : Ibunya Ageng
Manilo, kakak perempuannya Nyai Ageng Manyuro (Putri dari Sunan Ngampel)
dan murid-murid lainnya lagi banyak dimakamkan di Tuban.
Sunan Bonang wafat pada tahun 1486 dan dimakamkan di Bonang. Akan
tetapi selanjutnya dipindah dimakamkan dalam Kota Tuban. Di dalam
keterangan Dr. D.J.C. Schrieke, Sunang Bonang tidak disebut sebagai
orang Islam yang pertama, tetapi sebagai imam (jauh sebelum beliau di
Tuban telah ada orang-orang yang telah memeluk agama Islam). Ini dapat
dibuktikan, dimana para Bupati Tuban, mulai Bupati Arjo Tejo, pada tahun
1460 telah memeluk agama Islam.
5. Sunan Drajat (masih Moenat) putra ke II dari Sunan Ngampel, menetap di Drajat (dekat Sedayu).
6. Sunan Kalijogo (R.M. Sahit) Putra Wilotikto Bupati Tuban dan
kemenakan Sunan Bonang, menetap di Kalijogo dan dengan demikian
dinamakan Sunan Kalijogo.
7. Syeh Nurudin Ibrahim Ibn Maulana Israel atau secara singkat
dinamakan Syeh Ibn Maulana, menetap di Gunung Jati (dekat Cirebon) dan
demikian dinamakan Sunan Gunung Jati.
Brawijaya VII Raja Majapahit, melepaskan demi permintaan Permaisuri
Dwarawati, salah seorang selir, yang telah hamil. Beliau
menghadiahkannya kepada putranya Aryo Damar, yang menetap di Palembang.
Disana istri tersebut (Dewi Kiyan, dari Tiongkok) melahirkan seorang
putra yang dinamakan Raden Patah. Aryo Damar sendiri dengan Dewi Kiyan
tersebut mempunyai seorang putra yang dinamakan Raden Kusen. Maka Raden
Patah dan Raden Kusen adalah dua orang bersaudara, mempunyai ibu yang
sama : yang pertama putra cucu Brawijaya, sedang yang kedua putra dari
Aryo Damar.
Atas permintaan Aryo Damar, Raden Kusen pergi ke Majapahit untuk
tinggal menetap pada neneknya Brawijaya. Akan tetapi Raden Patah
membenci ayahnya Brawijaya, karena beliau melepas ibunya.
Raden Patah kawin dengan cucu Sunan Ngampel dan menetap di Bintoro
(Demak). Brawijaya mengirim seorang utusan kesana untuk memanggil
putranya datang ke Majapahit. Suatu siasat dari Brawijaya melunakkan
anaknya dari kebencian yang telah dikandungnya, ialah dengan mengangkat
Rden Patah sebagai Bupati Bintoro.
1460 pada waktu Sunan Ngampel wafat, Raden Patah minta bantuan pada
para penyiar agama Islam, yaitu Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Ngundung
dari Kudus, untuk bersama-sama memerangi Brawijaya, yang dipimpin oleh
Panglima Raden Kusen yang tetap setia kepada Prabu Majapahit, neneknya.
Tuban yang semula daerah bawahan dari Majapahit, pada waktu
perangnya agama Islam dengan agama Hindhu, memihak R. Patah. Pada waktu
itu Syeh Abdurahman, yang juga disebut Aryo Tejo, merupakan bawahan dari
Majapahit.
Brumund mengatakan, bahwa memeluk agama Islam sepanjang pantai utara
Pulau Jawa, lebih-lebih yang menetap di Jawa Tengah, dapat melebarkan
daerah pemeluk agama Islam dan menggabung dengan Kerajaan Demak.
Dari peperangan yang berlangsung lama sekali. Tidak banyak diketahui
orang. Hanya diketahui bahwa R. Kusen panglima dari angkatan perang
Majapahit berhasil menghancurkan Tentara Islam yang panglimanya adalah
Sunan Ngundung dari Kudus.
Diantara mereka yang setelah peperangan lari menuju barat sepanjang
pantai, antara lain terdapat Maulana Iskak, dari kakak Sunan Ngampel.
Maulana Iskak lari ke Gresik (lebih kurang 5 pal dari Tuban), yang
kemudian dikejar oleh Angkatan Perang Majapahit di bawah Pimpinan Pati
Barat Ketigo, yang kemudian di Gresik mengulangi perang kembali. Tetapi
dapat dipukul mundur karena kekuatan yang gaib, dari kalam Maulana
Iskak.
1478 Patah menaklukkan Majapahit dan membawa segala kekayaan dari
keraton ke Demak. Para pribumi dari Tuban dapat menjelaskan bahwa “Watu
tiban” yang letaknya dibelakang kantor pemerintahan daerah yang
sekarang, dan barang lainnya yang sekarang berada di makam Sunan Bonang,
setelah jatuhnya Majapahit, oleh Sunan Bonang dari Majapahit dibawa ke
Tuban.
Mengenai nasib Prabu Brawijaya tersiar banyak dongengan-dongengan.
Sementara orang mengatakan bahwa beliau gugur di Majapahit atau bunuh
diri : orang lain lagi mengatakan bahwa beliau lari ke Blambangan atau
Pulau Bali, sedang cucunya yang tetap setia padanya lari ke Terung
(Sidoarjo).
Diketahui oleh para pribumi di Tuban, bahwa Prabu Brawijaya ini
akhirnya dimakamkan di atas angin, Desa Kedong Ombo dekat ibukota Tuban.
Setelah beliau akhirnya pergi lari ke Blambangan atau Pulau Bali, R.
Patah meminta Sunan Kalijaga datang kepada Prabu Brawijaya agar raja ini
bersedia datang ke Demak yang akan diterima baik oleh putranya ialah
Raden Patah. Sunan Kalijaga telah dapat menemui Prabu Brawijaya yang
kalah dalam peperangan itu dan dapat berhasil mempengaruhi Prabu
Brawijaya yang beralih memeluk agama Islam. Kemudian mereka melalui laut
bersama-sama pergi ke Tuban.
Di atas angin dekat Tuban pada waktu itu telah menetap Raden
Margono, Putra Prabu Siliwangi Raja Pajajaran telah memeluk agama Islam,
yang oleh karenanya diusir ayahnya. Raden Margono kawin dengan Nyai
Ageng Junun, putri dari Nyai Ageng Manyuro (putri dari Sunan Ampel dan
kakak dari Sunan Bonang).
Di dalam hutan lebat yang kemudian menutup daerah atas angin,
menetaplah Prabu Brawijaya yang telah didalam peperangan dan lari itu.
Sekalipun beliau memeluk agama Islam, beliau tidak bersedia pergi ke
Demak untuk menemui putrannya R. Patah, yang pernah menghancurkan beliau
dalam peperangan dan sekarang mungkin karena menyesal ingin menjumpai
ayahnya kembali dan menolongnya.
Nasib Prabu Majapahit ini akhirnya sangat menyedihkan, yang
menyelesaikan hari-hari akhirnya sampai wafat di dalam tempat pembuangan
selaku seorang pertapa dekat Tuban. Rumah dari bambu dan meratap sirap
adalah merupakan penutup makamnya (sekarang sudah diperbaiki).
Pada tahun 1478 setelah Majapahit jatuh Raden Patah menjadi Raja
Demak dengan nama Panembahan Jimbun. Pada waktu itu Tuban menjadi
bawahannya.
1490 R. Patah Raja Demak wafat dan diganti oleh putranya Pangeran
Sabrang Lor yang wafat pada tahun 1493 dan diganti oleh putranya atau
saudara dari R. Patah, yaitu Pangeran Trenggono, beliau ini menjadi raja
di Demak sampai pada tahun 1539.
Dalam catatan Groeneveldt mengenai Kepulauan Malaya dan Malaka
tertulis pada tahun 1416 ada seorang musyafir bangsa Tiongkok yang
menyatakan : Pulau Jawa dahulunya namanya Japa, ini mempunyai 4 kota
kesemuanya dengan tembok-temboknya tinggi. Kapal-kapal dari
negara-negara lain yang datang di Pulau Jawa pertama-tama singgah di
Ts’ets’un (Kota Gresik), kemudian di Surabaya, Tuban dan akhirnya di
tempat yang dinamakan Majapahit, dimana bersemayam seorang raja.
Seorang ahli sejarah Dr. B.J.O. Schrieke di dalam skiripsinya yang
dinamakan, “buku mengenai Sunan Bonang” yang dipetik dari Pararaton
menjelaskan, bahwa Tuban pada abad XIII telah dikenal sebagai pelabuhan
di Jawa Timur. Bahkan sejarah Tuban ini adalah sudah dikenal jauh
sebelumnya, dimana dapat dibuktikan di Tuban telah diketemukan batu yang
ada tulisannya. Ini adalah suatu prasasti, demikian kata Dr. Schrieke
tersebut, sebagai bukti bahwa Tuban umurnya telah berabad-abad. Soal
yang layak diberitakan, bahwa ada suatu kelonggaran-kelonggaran yang
diberikan oleh raja dalam bidang perdagangan melalui laut, yang cap
negaranya adalah Garuda Mukha.
Kemudian dijelaskan bahwa hanya ada dua orang raya yang menggunakan cap Garuda Mukha tersebut ialah :
1. Raja Kediri tahun 1136. Dapat disangkal bahwa tulisan pada batu
berasal daripada Raja Kediri ini, karena Kerajaan Kediri tidak pernah
mempunyai wilayah seutara itu.
2. Tidak ada lain daripada Prabu Airlangga sendiri, raja dari Jawa
Timur. Dengan demikian batu tersebut sudah ada pada waktu pertengahan
abad ke II.
Dari catatan-catatan dihimpun oleh bangsa Portugis yang pergi
menjelajah lautan, ternyata bahwa pada tahun 1513 Tuban telah diketahui
oleh orang-orang Portugal Antonio d’Abreu berlayar pada tahun 1513
sepanjang pantai utara Pulau Jawa sedang seorang pedagang yang bernama
Nakhoda Ismail oleh d’Albuquerque dari Malaka ditugaskan berlayar,
tetapi dekat Tuban kapalnya pecah. Pada waktu itu Tuban dikatakan
wilayah dari “Sanguedepaten dama” (sang Adipati Demak, dari Raja Demak
waktu itu Pangeran Trenggono).
1521 Antonio de Brito diperintahkan oleh Raja Portugal berlayar dan datang di Tuban dan Gresik.
Jaka Tingkir mempunyai peranan penting dalam sejarah Jawa kuno yang
ayahnya pada waktu itu Bupati Pengging (dekat Sala sekarang) yang atas
perintah Raden Patah dibunuh karena tidak suka mengakui Raden Patah
selaku Raja Demak.
Pangeran Trenggono menyayangi Joko Tingkir tersebut, memberikan
putrinya untuk diperisterikan, menghadiahkan nama Panji Mas, dan
mengangkatnya sebagai Bupati Pajang dari Mataram (wilayah Jawa Tengah).
1539 Pangeran Tranggono wafat. Daerah Demak dibagi Pajang dan
Mataram ada di bawah Jaka Tingkir, Panji Mas. Anak tertua dari Pangeran
Trenggono mendapat bagian Semarang dan Demak, putra ke dua mendapat
bagian Kedu dan Bagelen, sedang putra yang bungsu Jipang (Kerajaan Hindu
Jawa Bowerno, yaitu Bojonegoro dan Blora), seorang anak menantu lagi
Jepara, Pati dan Rembang anak menantu lagi diberi Madura, Sedayu,
Gresik, Surabaya dan Pasuruan. Dalam hal ini mungkin termasuk Tuban.
Bupati Jipang menaruh dendam dan iri hati terhadap kakaknya dan juga
iparnya yaitu Bupati Jepara, Pati, Rembang dan menyuruh membunuhnya :
ini menyebabkan setelah wafatnya Pangeran Trenggono banyak intrik-intrik
yang selesai setelah Adipati Jipang wafat. Oleh Jaka Tingkir atau Panji
Mas, Adipati Jipang dibunuh dalam perkelahian berdua.
1568 Jaka Tingkir (Panji Mas) menugaskan Raja Islam di Giri untuk
dinobatkan sebagai Sultan Pajang dan Jipang. Pada saat itu Tuban menjadi
wilayah Pajang dan Jipang.
Putri Jaka Tingkir kawin dengan Bupati Tuban Aryo Permalat.
Pemerintahan di Mataram yang pada waktu itu terdiri dari 300 Kepala
Somah oleh Sultan Pajang dikuasakan pada Kyai Gede Pemanahan yang
menetap di Pasar Gede dan kemudian tahun 1575 wafat dan diganti oleh Mas
Ngabei Sutowijoyo. Beliau ini dari Sultan Pajang mendapatkan Gelar
Senopati ing Ngalogo.
1582 Sultan Pajang diracun oleh Mas Ngabei Sutowijoyo. Ketika itu
Tuban menjadi jajahan Mataram. Dari catatan Frank van der Does pada
waktu belajar, dijelaskan bahwa orang-orang Belanda pada tahun 1596
tanggal 2 Desember datang di Tuban berlabuh dan berdagang.
1598 Jacob van Heemskerk datang di Tuban diterima secara orang timur
oleh raja bersama gubernurnya yang bernama Ragalela berasal dari
Portugal. Dikatakan : “Saya ingin sekali tahu Kota Tuban”, demikianlah
tulisan dari Vice Admiral Jacob van Heemkerk di dalam catatan
pelayarannya yang selanjutnya dikatakan, “demikian raja menyertai saya
dengan dua orang datang ke daratan, untuk melihat istananya. Setelah
datang di daratan, saya membawa dua atau tiga orang dan seorang anak
lagi, yang rupanya putih. Raha dan penggawanya sangat heran dan membawa
kami ke dalam ruangan dimana telah hadir permaisuri-permaisuri raja
(selir) yang banyak yang menurut dugaan kami berjumlah 50 sampai 60
orang. Orang-orang peserta saya dipanggil untuk mendekat pada beliau dan
penggawa yang nampak selalu keheran-heranan. Raja berbicara sekedar
pada permaisuri (kedua beliau ini nampaknya sama sangat gemuknya)
kata-kata mana saya tidak mengerti, tetapi para beliau itu kemudian sama
ketawa terbahak-bahak, beliau kemudian memerintahkan untuk meniup
terompet, yang segera dilaksanakan, kemudian mereka pergi untuk
menyertai kami, diikuti dengan beberapa orang wanita, putrinya masih
remaja, yang sama membawa air, sirih, kapur dan lain-lain barang lagi”.
Antara orang Belanda dan raja nampaknya terjalin suatu pengertian
yang baik, ternyata raja memberi hadiah yang berharga berupa sebuah
keris dengan tempat dari emas yang tentunya menimbulkan keheranan. Vice
Admiral mencatat di dalam bukunya agar kelak membawa kain untuk pakaian
terdiri dari bunga-bunga yang berwarna ditambah dengan barang-barang
lain yang sangat indah untuk disampaikan kepada raja, sekalipun demikian
Vice Admiral tadi menggerutu, karena dangkalnya pelabuhan, sehingga
kapalnya harus berlabuh jauh dari pantai.
1601 Mas Ngabei Sutiwijoyo wafat setelah memanggil para bupati dari
Cirebon, Sumedang, Madura dan Tuban untuk datang di ibukota Pasar Gede
untuk mengakuinya sebagai Raja Mataram. Beliau diganti oleh putranya
yaitu Panembahan Sedo Krapyak (Mas Jolang).
1613 Panembahan Sedo Krapyak wafat setelah bertempur dengan Gresik
yang tidak suka mengakui kedaulatannya. Pada waktu itu Gresik di bawah
Pimpinan Gubernur Jenderal Both sedang membangun suatu gedung, yang oleh
Panembahan Sedo Krapyak dimusnahkan.
Panembahan Sedo Krapyak diganti oleh putranya bernama Martopura,
yang telah menjadi raja sampai tahun 1638 yang kemudian diganti oleh
kakaknya Cokrokusumo (R. M. Rangsang) yang kemudian mendapatkan gelar
Sultan Agung dan wafat pada tahun 1645. Banyak bupati dari Jawa Timur
diantaranya bupati dari Surabaya, Lasem dan Tuban tidak bersedia
mengakui kedaulatan Sultan Agung dari Mataram yang dianggap jahat itu
dan bertempur bersama-sama melawan tentara kerajaan.
Pada waktu itu ternyata Angkatan Laut Tuban sangat kuatnya. Hal ini
dapat diketahui di dalam tulisan pada tahun 1615 oleh Balthazar van
Eijndhoven, yang menyatakan : “musuh-musuh dari kaisar (yang dimaksud
Sultan Agung Mataram) ialah Tuban, Lasem, Brondong, Surabaya, Paciran
yang bersama-sama melawan tentara kerajaan pada tahun 1615, di daratan
raja sangat kuat, tetapi di laut Tentara Tuban yang kuat”.
1615 Tuban yang bupatinya bernama Pangeran Dalem, diserang dan
dikuasai oleh prajurit-prajurit Mataram dibawah Pimpinan Kyai Randu
Watang yang dapat menguasai bentengnya Pangern Dalem dan menyita meriam
yang keramat dari Tuban yang bernama Kyai Sidomurti yang didapatnya dari
orang-orang Portugis atau orang-orang Belanda yang pertama-tama
mendarat di Jawa.
Pangeran Dalem yang di lautan lebih kuat daripada di daratan lari ke
Bawean dan kemudian sebagai Bupati Tuban diganti oleh utusan dari
Mataram yaitu Pangeran Pojok. Dengan demikian maka Tuban menjadi wilayah
Mataram kembali.
1620 Surabaya diserang oleh tentara dari Mataram, sedang Lasem dan Pasuruan telah dijatuhkan lebih dulu.
1623 Surabaya diserang kembali oleh Mataram dan dikuasai.
1645 Sultan Agung wafat diganti oleh puteranya yang kedua yaitu
Pangeran Aryo Prabu, dengan Gelar Amangkurat. Dalam waktu
pemerintahannya ada 4 orang Gubernur Pantai yaitu di Juana, Jepara,
Semarang, dan Demak. Bupati Tuban pada waktu itu kedudukannya tidak
mudah dan seperti juga halnya bupati-bupati bawahannya dari Mataram
lainnya, lebih banyak berada di ibu kota Amangkurat dari pada
didaerahnya sendiri. Maka tidak meng¬herankan, bahwa pada pemberontakan
Trunojoyo tahun 1674 Bupati Tuban berada di pihak pemberontak. Menurut
sejarah yang dituturkan oleh pribumi di Tuban, agaknya Trunojoyo pernah
juga datang di Tuban antara lain di Desa Prunggahan, Kecamatan
Semanding, yang menyebabkan orang pribumi sekarang banyak yang ingin
pakai nama “Truno”.
Hampir semua daerah pantai menyatakan dirinya bebas dari penguasaan Mataram yang dipandang jahat dan sewenang-wenang itu.
1677 Adipati Anom ialah putra dari Amangkurat yang telah memadamkan
pemberontakan, dilantik sebagai Susuhunan Mataram dengan nama Amangkurat
ke II. Kemudian dicapai persetujuan dengan Mataram, yang menyatakan
bahwa semua pelabuhan tepi pantai utara mulai dari Krawang sampai Jawa
Timur, jadi termasuk Tuban digadaikan pada Belanda, karena utangnya
Mataram pada waktu peperangan.
1678 Angkatan Perang dibawah Hurt dan St. Martin melawan Trunojoyo.
Sebagian dari Angkatan Perang dibawah Kapten Muller dan Kapten Remesse
menuju Rembang. Bupati Tuban Raden Arya Dipusana bertempur pada pihak,
Trunojoyo dan di Singkul (Sedayu) gugur dalam serangan Angkatan Perang
Hurt, Kediri yang digunakan sebagai basis Trunojoyo, dikuasai oleh Tak.
Para Bupati Tuban dan Sedaju kemudian kembali memihak Mataram.
1679 Pangeran Puger dan Senopati berontak.
1703 Amangkurat ke II dari Mataram diganti oleh Amangkurat ke III (Sunan Mas).
1704 Pangeran Puger minta pertolongan Pemerintah Belanda menyerang
Raja Amangkurat ke III. Para bupati dari pantai utara berada di pihak
Pangeran Puger dan mengakui beliau sebagai Susuhunan Pakubuwono yang
pada tahun 1705 oleh Pemerintah Belanda diakui sebagai Raja Mataram.
1705 Dibuat persetujuan baru dengan Mataram dan menyerahkan Cirebon
serta Priangan pada Belanda. Raja Amangkurat ke II atau Sunan Mas
dipecat sebagai raja dan memihak pada pemberontak Suropati.
1706 Angkatan Perang dibawah Mayor Govert Knol menyerang pemberontak. Suropati dekat Kali Porong mendapat luka-luka dan gugur.
1707 Angkatan Perang dibawah Pimpinan Van de Wilde mengalahkan
Kediri. Bupati Sampang Cakraningrat menggunakan kesempatan ini untuk
diangkat sebagai Panembahan dari daerah pantai bagian timur. Dengan
demikian beliau mengalahkan Bupati Gresik dan memindahkan Bupati Sedayu
ke Tuban. De Wilde kemudian mengalahkan kembali kabupaten-kabupaten
pantai dan mengangkat orang yang terpercaya sebagai Bupati Tuban. Telah
ditentukan bahwa Susuhunan Mataram dapat mengangkat Gubernur Daerah
Pantai Timur, tetapi dengan persetujuan Pemerintah Belanda. Sunan Mas
menyerah dan dibuang ke Sailan. Pada tahun 1708 Pangeran Puger diangkat
jadi raja dengan gelar Paku Buwono ke I.
1709 Semua bupati dipanggil mengikuti konperensi kerja di Kartasura
dengan Gubernur Knol dan Susuhunan. Pada waktu itu sistem tanam paksa
dan wajib bantu diadakan. Dengan demikian Tuban harus mewujudkan 240
ringgit kontan ditambah dengan 12,5 koyan beras ditambah lagi benang
kain, kayu sapan dan kulit kerbau. Waktu itu Kerajaan Mataram dibagi
atas 43 kabupaten. Jabatan Gubernur Daerah Pantai dicabut.
1710 Para pemberontak dibawah Bupati Winongan, menguasai Pasuruan. Kepala-kepala pemberontak menghancurkan Tuban.
1719 Paku Buwono ke I mangkat dan diganti oleh P. Prabu juga
dinamakan Sunan Prabu atau Amangkurat ke IV. Yang membantu para
pemberontak antara lain Diponegoro, Diposanto, Pangeran Purboyo,
Pangeran Blitar, Aryo Mataram, dan Mangkunegoro. Pada tahun 1723
pemberontakan berhenti.
1727 Sunan Prabu mangkat dan diganti oleh puteranya yang kemudian
diangkat dengan Gelar Paku Buwono ke II jadi raja. Pada tahun 1733
dibuat persetujuan baru dengan Paku Buwono ke II.
1740 Di Pulau Jawa timbul pemberontakan Cina. Paku Buwono ke II
membantu para pemberontak. Tuban, Gresik dan Lamongan pun membantu pihak
Cina, tetapi kemudian oleh Bupati Madura Cakraningrat dan puteranya
Bupati Sedayu yang keduanya tetap setia kepada Belanda dapat menduduki
Tuban, Gresik dan Lamongan.
1741 Para pemberontak mengakui Mas Garendi atau Sunan Kuning sebagai
raja. Pemerintah Belanda memberikan bantuan lagi dan mengakhiri
pemberontakan.
1743 Dibuat suatu persetujuan baru dengan Paku Buwono ke II dimana
sebagian besar dari Jawa Timur termasuk Daerah Rembang menjadi daerah
Kompeni. P. Cakraningrat dari Madura yang pernah memberikan bantuan yang
kuat minta diserahkan Gresik, Tuban, Sedayu dan Surabaya sebagai
wilayah kabupaten anaknya yaitu Bupati Sedayu yang kemudian pakai gelar
Panembahan. Ini menyebabkan Van Imhoff memberikan perhatian kepada para
penguasa O.I.C, karena soal-soal yang tidak layak dari Bupati Madura,
tindakan-tindakannya yang kurang dapat dibenarkan, sikap¬sikapnya yang
pemarah, dan tindakan-tindakan lain lagi yang berani tetapi tidak sehat.
Pemberontakan baru dari Cakraningrat menyebabkan Tuban dan Sedayu
dikuasai oleh Komisaris Varrijssel. Bupati Tuban dan bahkan Putra
Cakraningrat yaitu Bupati Sedayu, mengakui kedaulatan Kompeni.
1745 Sekalipun Tuban masih merupakan daerah Mataram, dapat
mengadakan pilihan dan penunjukan atas persetujuan Verrijssel,
pemimpin-pemimpin terdiri dari pembesar Jawa masing¬masing di Gresik,
Tuban dan Sedayu. Orang Madura yang masih bersembunyi di Rembes (Tuban)
kemudian dapat diusir.
1746 Gubernur Jenderal Van Imhoff turun ke Jawa Timur ka¬rena
menurut laporan di Jawa Timur selalu banyak menghebohkan Kompeni. Pada
waktu itu atas usul Komisaris Verrijssel oleh Gubernur Jenderal Van
Imhoff Tuban menjadi daerah bawahan Rembang, dengan demikian hubungan
Tuban daerah timur yang mengakui penguasa Surabaya terhenti.
1749 Daerah Kerajaan Mataram diserahkan kepada Kompeni. Meskipun
demikian Gubernur Jenderal Van Hohendorff mengangkat Pamgeran Pati
sebagai Paku Buwono ke III. Kemudian timbul pemberontakan dari
Mangkubumi, yang menyatakan diangkat sebagai Sultan Mataram. Kemudian
timbul pertempuran terhadap Mangkubumi dan Mas Said.
1755 Oleh Gubernur Semarang Nikolas Hartingh separuh dari Mataram
diserahkan kepada Mangkubumi, yang kemudian mendapat Gelar Sultan
Amangkubuwono dan menetap di Yogyakarta.
1757 Mas Said mendapat Gelar Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro,
Bupati Madura diangkat menjadi “Wedono” atau “pelindung” dari
kabupaten-kabupaten timur seperti Pamekasan, Pasuruan, Bangil,
Probolinggo, Gresik, Lamongan, Sedayu, Lasem dan Tuban. Gubernur dari
Daerah Pantai Utara Jawa Hartingh menulis didalam catatan serah terima
tahun 1761 mengenai Tuban sebagai berikut : Tuban adalah daerah yang
luas dan lebar, tetapi daerah pegunungan dan hutan. Di sebelah selatan
berbatasan dengan Kali Solo, disini letaknya Pasar Prambon Wetan, yang
perbaikannya tergantung kepada keadaan daerah atasan, dalam mana Tuban
selama bertahun-tahun belum pernah memberikannya, disini kepalanya ialah
Tumenggung Rana Negara orang sudah tua, bodoh, sangat jahat terhadap
rakyat, tetapi prajurit yang baik yang menyebabkan daerah ini dapat
diserahkan kepada Kompeni dan tetap setia kepadanya, ia selalu dapat
menghalaukan musuh, sehingga padanya perlu diberikan sesuatu dispensasi.
Dia memberikan pada Rembang 100 koyan beras kontan dan seribu pikul
kayu sebetan untuk penggergajian bagi Kompeni, uang sejumlah 325 ringgit
dan persewaan tanah sejumlah 2250 ringgit setiap tahunnya. Juga apabila
pekerjaan terlalu sibuk, masih diberikan tambahan kayu glondongan untuk
penggergajian, dan tepi pantai dipergunakan untuk perahu-perahu kecil,
juga kayu diberikan untuk pembuatan pasar-pasar dan untuk diberikan
kepada pedagang-pedagang kecil.
1787 Paku Buwono ke III mangkat dan diganti oleh Paku Buwono ke IV
(Sunan Bagus). Pada waktu itu sudah ada Gubernur dari Pantai Utara
Sebelah Timur Pulau Jawa (yang pertama tahun 1747 Honhendrff,
selanjutnya Gubernur Hartingh, Van Ossenbergh, Vos, Can der Burgh,
Siberg, Greeve dan Van Overstraten).
Kemudian Gubernur Van der Burgh pada tahun 1773 mengusulkan kepada
Gubernur Jendral agar Bupati Tuban Mas Rekso Negoro atau Mas Tumenggung
Cokro Negoro dipecat sebab memberikan beban baru pada bawahannya, pada
rakyat. Dari 100 koyan beras yang tiap tahunnya rakyat harus
memberikannya, yang 30 koyan dibayar, tetapi sisa yang 70 koyan seperti
benang kain halnya, tidak dibayarnya.
Keterangan mengenai Tumenggung Rana Negara.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa di dalam daerah Tuban lama,
banyak bupatinya. Di antaranya, Tuban, daerah atasan sampai Kali Solo.
Dalam catatan serah terima pada tahun 1780 Gubernur Pantai Utara
Timur Pulau Jawa Van der Burgh Gubernur yang berhenti, menjelaskan
kepada penggantinya Gubernur Siberg, bahwa Bupati Tuban Purbonegoro
(Purwonegoro) yang telah diketahui sejak beberapa lama agak menyimpang,
tetapi kemudian seperti juga halnya dengan Bupati Lasem membutuhkan
waktu yang lama kesabaran gubernur untuk dapat mengharapkan suatu
perbaikan.
Terhitung dari daerah pantai utara timur Pulau Jawa yang ikut
Pemerintahan Belanda adalah termasuk Karesidenan Rembang yang
membawahkan Kabupaten Rembang, Lasem dan Tuban, begitu daerah-daerah
sebelah timur Tuban dikuasai oleh penguasa¬penguasa Jawa Timur dan
dibawah Gubernur Pantai Utara Pulau Jawa dan menetap di Surabaya yang
membawahkan Residen Gresik.
1808 Dibawah Gubernur Jenderal Daendels Pemerintahan Pantai Jawa
Utara, dihapuskan. Residen menjadi Prefect (kemudian dibawah Raja
Lodewijk diganti nama Landdrost). Jawa Timur diserahkan pada pimpinan
penguasa di Surabaya. Gresik dimana ada Residennya diserahkan kepada
Onderperfect. Tuban dijadikan satu dengan Gresik. Kemudian Daendels
mengadakan konperensi, kerja dengan penguasa beberapa Perfect dan 38
bupati dari daerah pantai utara timur mengenai susunan pemerintahan
dalam daerah. Dibawah Gubernur Jenderal Raffles Rembang terma¬suk Tuban
dijadikan Karesidenan kembali.
1827 Pada waktu ada pemberontakan Pangeran Diponegoro juga di
Rembang ada pemberontakan dipimpin oleh Tumenggung Sosrodilogo, kakak
dari Sultan Agung Yogyakarta yang berhasil menguasai Blora dan Tuban.
1828 Jenderal Holsman mengalahkan para pemberontak.
1830 Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibuang. Permusuhan berhenti,
dan sejak itu ketenteraman di Tuban tidak diganggu lagi oleh kericuhan,
di dalam daerah.
SEJARAH TUBAN II
SEJARAH KOTA TUBAN II
A. Tuban Waktu Pemerintahan Airlangga
Airlangga
jadi Raja Medang (1019-1041) sesudah negeri itu dirusakkan musuh.
Kemudian Airlangga mendirikan keraton baru di Kahuripan. Kemakmuran
rakyat diperhatikanya benar. Aliran Sungai Brantas diperbaikinya,
sehingga perahu-perahu dapat berlabuh dengan tenang dan aman di Hujung
Galuh, Pelabuhan Kahuripan yang makmur pada masa itu. Karena Hujung
Galuh menjadi pelabuhan utama untuk penjagaan antar pulau, maka
pelabuhan antar negara ditempatkan di Kambang Putih, yakni di atau dekat
Tuban, yang sekarang. Oleh Airlangga diambil sejumlah tindakan untuk
memajukan perniagaan di sana. Antara lain pembebasan dari beberapa jenis
pajak. Orang-orang asing yang berdagang disana berasal dari jauh.
Menurut daftar yang terdapat dalam prasasti-prasasti, Airlangga termasuk
pedagang dari India Utara, India Selatan, Birma, Kamboja dan Campa. Hal
yang menarik perhatian kita, ialah ketiadaan orang-orang Tionghwa dalam
daftar tersebut.
Rupanya hal ini disebabkan karena Tiongkok, dimana
peniagaan luar negeri menjadi urusan pemerintah, semata-mata berdagang
dengan Sriwijaya seperti dahulu. Pelabuhan Tuban menurut pengaturan
jalan-jalan menghubungkan kota tersebut dengan pusat negara yang mungkin
sekali letaknya agak ke dalam, menurut keyakinan kami, di daerah
Mojokerto. Sejumlah prasasti dari Zaman Airlangga yang didapat di daerah
Babat, Ngimbang dan Ploso, menunjukan bahwa justru daerah melalui jalan
dari Tuban ke Babat menuju ke Jombang mendapat perhatian yang besar
dari Airlangga.
B. Buku Ying Yai Sheng Lan
Berita
Tionghwa yang sangat penting, adalah uraian Ma Hua dalam bukunya Ying
Yai Sheng Lan. Ma Huan adalah orang Tionghwa beragama Islam, yang
mengiringi Cheng Ho dalam perjalanannya yang ketiga (1413-1415) ke
daerah-daerah selatan. Kecuali soal-soal mengenai keadaan berbagai
daerah yang berhubungan dengan kedudukan politiknya, yang sangat menarik
perhatian adalah uraian Ma Huan tentang keadaan Kota Majapahit dan
rakyatnya. Kalau orang pergi ke Jawa, katanya, kapal-kapal lebih dahulu
sampai ke Tuban. Kemudian dengan melalui Gresik yang banyak penduduknya
Tionghwa, orang tiba di Surabaya. Di sini orang pindah ke perahu-perahu
kecil berlayar di Canggung. Melalui jalur darat, orang kemudian pergi
kearah selatan dan tibalah orang di Mapajahit, tempat kediaman sang
raja. Kotanya dikelilingi tembok tinggi yang dibuat dari bata, dan
penduduknya sejumlah kira-kira 300 ribu orang. Sang raja kepalanya
terbuka, atau tertutup dengan mahkota dengan emas, memakai kain dan
selendang, tidak berterompah dan selalu membawa satu atau dua bilah
keris. Kalau keluar ia naik gajah atau kereta yang ditarik oleh lembu.
Rakyatnyapun memakai kain dan baju, dan tiap orang laki-laki mulai anak
berumur 3 tahun memakai keris, yang hulunya indah sekali, terbuat dari
emas, culah badak atau gading. Kalau mereka bertengkar sekejap saja
mereka sudah siap dengan kerisnya. Mereka bisa makan sirih, senang
mengadakan perang-perangan dengan tombak bambu pada perayaan-perayaan,
suka bermain-main bersama waktu terang bulan dengan disertai
nyayian-nyanyian berkelompok dan bergiliran antara wanita dan pria,
gemar pula menonton wayang beber (wayang yang adegan-adegan ceritanya
digambar di atas sehelai kain, kemudian dihentangkan antara dua belah
kayu dan diceritakan isinya oleh dalang). Penduduk Majapahit terdiri
atas tiga golongan : orang-orang Islam yang datang dari barat dan
mendapat mata pencaharian di ibukota, orang Tionghwa yang banyak pula
memeluk agama Islam dan rakyat selebihnya menyembah berhala dan tinggal
bersama anjing mereka.
C. Buku Ling-Wai-Tai-Ta
Dari
hasil kesusastraan dapat pula diketahui sedikit bagaimana keadaannya
dalam Zaman Kediri. Tetapi masih menarik perhatian ialah
keterangan-keterangan yang terdapat dalam berita-berita Tionghwa. Kitab
Ling Wai Tai Ta yang disusun oleh Cho Ku Fei dalam tahun 1178 memberikan
gambaran yang tidak didapat dari lain sumber tentang pemerintahan dan
masyarakat Kediri. Dikatakan misalnya, bahwa orang-orang memakai kain
sampai di bawah lutut, sedang rambutnya terurai.
Rumah-rumahnya
sangat rapi dan bersih. Lantainya dari ubin yang berwarna hijau dan
kuning. Pertanian, peternakan dan perdagangan mengalami kemajuan dan
perhatian dari pemerintahpun ada pemeliharaan ulat sutra dan kapas.
Hukuman badan tidak ada, orang yang bersalah didenda dan pembayarannya
berupa emas, kecuali pencuri dan perampok yang dibunuh. Untuk
perkawinan, keluarga anak perempuan menerima mas kawin berupa sejumlah
emas, alat pembayaran adalah mata uang dari perak. Orang sakit tidak
menggunakan obat, melainkan memohon sembuh kepada para dewa-dewa dan
kepada Budha tiap bulan kedua diadakan pesta air, dan orang
berperahu-perahu penuh kegembiraan : tiap bulan sepuluh perayaan
berlangsung di gunung dan orang berduyun-duyun kesana untuk
bersenang-senang. Alat-alat musiknya terdiri atas seruling, gendang dan
gambang dari kayu.
Tentang sang raja sendiri dikatakan, bahwa ia
berpakaian sutra, bersepatu kulit dan memakai perhiasan-perhiasan dari
emas. Rambutnya sanggul di atas kepala. Setiap hari ia menerima
pejabat-pejabat dan pengurus pemerintahan. Maka ia duduk di atas
singgasana yang berbentuk segi empat. Sehabis sidang para pejabat itu
menyembah tiga kali, baru mengundurkan diri. Jika raja keluar, naik
gajah ataupun kereta, ia diiringi 500 sampai 700 orang prajurit dan
rakyat ditepi jalan semuanya jongkok sampai raja lewat. Dalam
pemeritahan sang raja dibantu oleh 4 orang menteri terkemuka, yaitu
Rakryan Kanuruhan, Rakryan Mahamantri I Hulu, Rakryan Mahamantri I
Rangga dan Rakryan Mahapatih. Mereka ini tidak menerima gaji tetap,
tetapi pada waktu-waktu tertentu menerima hasil bumi atau lainnya.
Selanjutnya pemerintahan dilakukan oleh 300 orang pegawai, yang memegang
tata buku dan tata usaha : 1000 orang pegawai rendahan bertugas
mengurus perbentengan, perbendaharaan negara, gudang-gudang persediaan
dan keperluan-keperluan para prajurit. Panglima tentara setiap setengah
tahun mendapat 10 tail emas dan para prajurit yang berjumlah 30.000
mendapat bayarannya setengah tahun sekali pula dan besarnya gaji sesuai
dengan pangkatnya. Demikian keterangan yang kita peroleh dari sumber
Tionghwa. Hal-hal tersebut juga terdapat dalam kita Chu-fan-chi oleh
Chau-Ju-Kau tahun 1225. Dalam buku tersebut diceritakan juga, bahwa di
Asia Tenggara ada dua kerajaan yang terkemuka dan terkaya, pertama ialah
Jawa dan kedua Sriwijaya. Di Jawa ada dua macam agama yaitu agama Budha
dan agama para petapa (maksudnya Hindhu). Rakyatnya lekas naik darah
dan berani berperang, kesukaannya ialah mengadu ayam. Mata uangnya
dibuat dari logam campuran tembaga, perak dan timah.
SEJARAH TUBAN I
SEJARAH KOTA TUBAN I
Sejarah Indonesia sesuai dengan pengertian dari Prof. H. Mohhammad Yamin, dapat terbagi atas lima tingkatan babak zaman.
Babak
pertama yang dinamai dengan istilah internasional “Praehistoria”
prasejarah atau sejarah purbakala : bermula dengan terbentuknya bumi dan
Kepulauan Indonesia serta sejak adanya manusia pertama di tanah air.
Babak
kedua dinamai “protohistoria” atau mula sejarah, pembatasan waktu mulai
permulaan tarikh masehi tahun 0, sampai permulaan abad ke-7.
Abad ketiga zaman historia yang sebenarnya mulai permulaan abad ke-7 sampai permulaan abad ke-16.
Babak keempat sejak abad ke-16 sampai permulaan abad ke-20.
Babak kelima mulai tahun 1900 sampai sekarang.
Hasil
penggalian sampai kini, catatan sejarah Tuban, baru dapat kami ungkap
kembali mulai dengan babak ketiga sebagai berikut ini.(Raden Soeparmo).
Janturan Negari Tuban
Swuh
rep data pitana. Anenggih pundi ta negari kang kaekaadi dasa purwa. Eka
sawiji, adi lunuwih dasa sepuluh, purwa wiwitan. Sanajan katah negari
ingkang sinangga pratiwi, kasongan akasa, kapit samodra, nanging datan
kadi negari Tuban. Marma kinarya bebuka, ngupoyoa negari satus tan antuk
siji, sewu tan jangkep sedasa, sanajan kurebing langit, lumahing bumi,
tan arsa madha kadi negari Tuban.
Kawastanan negari Tuban, awit negari ingkal mijil sumberipun toya.
Me-Tu Ban-nyu
Negari ingkang dados kuncining swarga-loka. Negari Sekar pundak, kondang kaloka, arum angambar ing jagad triloka.
Dasar negari panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah karta tur rahaja.
Panjang
dawa pocapane, kondang kaloka ing tribawana punjung luhur kawibawane,
pasir samodra, wukir gunung. Dene negari angungkurake pagunungan,
hangayunake samodra bebandaran. Loh subur kang sarwa tinandur, murah
kang sarwa tinuku, jinawi sugih talaga narmada, gemah kang gegriya
salebeting praja, jejel riyel apipit aben cukit tepung teritis, ripah
kang samya alampah dagang anglur gelur rinten dalu tan ana kendate,
labet tan wonten sangsayaning margi. Karta tebih parang muka, tebih
saking cecengilan, adoh sangking laku juti. Rahaja para kawula ing
padusunan sami ayem tentrem atine, tungkul pangolahe kisma, yeg rumangan
ing gawe, bebek, ayam, rajakaya, enjang medal ing pangonan, surup bali
ing kandenge dewe-dewe.
Para nara praja sami kontap kautaman, aputus marang wajib panataning negari, racak sakti mandra guna tur samya luhur bebudene.
Tansa
ambudidaya harjane negara sakawula, tan remeh cecongkrahan, mung angudi
rahayuningrat. Kadaya saking luhur bebudene sri bupati tuwin nara
praja, katah para bupati ing manca praja samya sumuyud, bebasan kang
celak manglung, kang tebih tumiyung samya anyudara mring Tuban.
Wenang
den ucapna jejuluking sri Bupati Ronggolawe. Sri bupati dahat ngundi
ing kautaman, mulyakaken agama, nagara myang kawula, tindak adil
paramarta. Lampahing pengadilan tan watak ambau kapine, tan mawang
santane warga, yen tetela sisip enggal winisesa tan mawi wigih. Sri
bupati netepi berbudi bawaleksana, punapa ingkang kadawuhaken tan kena
oncad, mesti kaleksanan. Yen ginunggunga, lelabuhane bupati wiyaring
laladan, saratri tan apa kendate.
Inggih punika negari Tuban.
Senin, 18 Juni 2012
ST12
ST 12 adalah grup band Indonesia yang didirikan di Bandung, Jawa Barat pada tahun 2004. Grup ini didirikan oleh Ilham Febry alias Pepep (drum), Dedy Sudrajat alias Pepeng (gitar), Muhammad Charly van Houten alias Charly (vokalis), dan Iman Rush(gitaris). Nama ST 12 sendiri merupakan kependekan dari Jl. Stasiun Timur No. 12 yang merupakan markas berkumpulnya band ini. Sampai saat ini ST 12 telah menghasilkan 5 album musik.
Secara resmi ST 12 berdiri pada tanggal 20 Januari 2004, meski anggotanya telah lama berkecimpung di dunia musik. Sebelumnya, keempat personel ini tak saling kenal. Mereka sering bertemu di studio rental di Jalan Stasiun Timur 12, Bandung, milik Pepep. Nama ST 12 yang merupakan kependekan dari Jl. Stasiun Timur No. 12 adalah nama pemberian ayah Pepep, Helmi Aziz. Mereka juga berkompromi dengan mengambil aliran Melayu, Pop,Country, Akoustik dan Jazz, walau Charly menggemari jazz, Pepep suka jazz dan rock, sementara Pepeng tumbuh bersama musik rock. Sulitnya mendapat label rekaman yang mau menerima mereka, ST 12 akhirnya menempuh jalur indie (independent). Album perdana, Jalan Terbaik pun dirilis. Sayang, saat tur promosi album tersebut di Semarang, Iman Rush meninggal akibat pecah pembuluh darah di otak pada bulan Oktober 2005.
Kesuksesan album perdana ST12 membuat mereka dilirik Trinity Optima Production. ST12 pun merilis album kedua P.U.S.P.A (2008) yang didedikasikan untuk Iman.
Band ini juga memengaruhi penyanyi cilik asal Amerika Serikat, Billy Gilman.
Pada 9 Oktober 2011, kuasa hukum Charly merilis pernyataan bahwa Charly van Houten tidak lagi menjadi anggota band ST 12.
Pada 13 Oktober 2011, Pepeng keluar dari ST12 setelah menyusul Charly
- Jalan Terbaik (2005)
- P.U.S.P.A (2008)
- P.U.S.P.A Repackage (2009)
- Pangeran Cinta (2010)
Album perdana ST 12 dengan judul Jalan Terbaik sebenarnya sudah dirilis sejak bulan Juni 2005 dan baru diedarkan sebelum Iman Rush meninggal lewat label PT. Gita Mitra Persada yang merupakan sublabel/satellite label dari Musica Studio. Sedangkan label Music+Plus adalah sebuah label management yang mengedarkan albumnya dalam bentuk CD dan hanya dijual didaerah Bandung dan Cimahi saja.
Gombalan Setia
Kata Kata Gombal Cinta
- Saat aku nggak SMS ke kamu, bukan berarti aku melupakanmu, tapi aku hanya memberi waktu buat NGANGENIN AKU !!
- Aku tidak minta bintang atau bulan kepadamu. Cukup temani aku selamanya di bawah cahayanya
- Gimana kalo kita berdua jadi komplotan penjahat: Aku mencuri hatimu, dan kamu mencuri hatiku ?
Aku pengen bersamamu cuma pada dua waktu : SEKARANG dan SELAMANYA.
- Jika aku bisa jadi bagian dari dirimu, aku mau jadi air matamu, yang tersimpan di hatimu, lahir dari matamu, hidup di pipimu, dan mati di bibirmu.
- Aku selalu berusaha tak menangis karenamu, karena setiap butir yang jatuh, hanya makin mengingatkan, betapa aku tak bisa melepaskanmu.
- Andai sebuah bintang akan jatuh setiap kali aku mengingatmu, bulan pasti protes. Soalnya dia bakal sendirian di angkasa.
- Kenapa aku tetap menginginkanmu walau kamu tak pernah punya rasa yang sama. Masalahnya, begitu sulit membuatmu mencintaiku, lebih sulit lagi memaksa hatiku berhenti memikirkanmu.
- Dingin malam ini menusuk tulang. Kesendirian adalah kesepian. Maukah kau jadi selimut penghangat diriku ?
- Aku ingin mengaku dosa. Jangan pernah marah ya. Maafkan sebelumnya. Tadi malam aku mimpiin kamu jadi pacarku. Setelah bangun, akankah mimpiku jadi nyata?
Kata Kata Gombal Lucu
- Dulu aku heran, napa orang sampe berantem ? hanya karena cinta. Trus aku inget muka kamu, dan tiba-tiba, aku merasa siap menghadapi Perang Dunia Ketiga.
- Kalau kamu nanya berapa kali kamu datang ke pikiranku, jujur aja, cuma sekali. abisnya, ga pergi2 sih!
- Orangtuamu pengrajin bantal yah? Karena terasa nyaman jika di dekatmu.
- Sekarang aku gendutan gak sih ? kamu tau gak kenapa ? soalnya km udah mengembangkan cinta yang banyak dihatiku
- Tau ga knapa malem ini ga ada bintang ?? soalnya bintangnya pindah semua ke matamu?
- Jangan GR deh. Aku kangen kamu sedikit aja kok. Sedikit berlebihan maksudnya.
Cowok: Maaf mbak, jangan terlalu lama duduk dikursi itu, pindah deket saya saja?
Cewek: Loh? Emangnya kenapa??
Cowok: Biar gak dikerubung semut.. soalnya mbak manis sich?
Cowok : Aku didiagnosa Sakit jantung.
Cewek : Hah! Kok bisa?
Cowok : Iya. Jantungku selalu berdegup kencang bila dekat denganmu.
Cowok : Kemarin aku ke dokter mata. Kamu tau apa kata dokter?
Cewek : Apa? Parah?
Cowok : Kata dokter ada kamu di mataku.
Cowok : Kamu punya kunci apa aja sih?
Cewek : Kunci rumah, kunci mobil, kunci lemari. Emang ada apa?
Cowok : Punya nggak kunci untuk membuka hatimu kepadaku?
Cowok : Kamu punya peta nggak?
Cewek : Peta apa?
Cowok : Peta hatimu. Karena aku tersesat dan tak bisa keluar dari hatimu.
- Bapak kamu pasti seorang astronot ??? Soalnya aku melihat banyak bintang di matamu.
- Kamu pasti kuliah di seni pahat ya ??? Soalnya kamu pintar sekali memahat namamu di hatiku.
- Kakekmu pasti penambang ya ??? Soalnya banyak berlian di matamu.
- Kamu Mantan pencuri ya ??? Abisnya kamu mencuri hatiku sih!
Cowok : Aku suka senyum-senyum sendiri lho.
Cewek : Hah .. Gila Ya
Cowok : Nggak. Aku sedang mikirin kamu.
- Setiap malam aku berjalan-jalan di suatu tempat. Kamu tau di mana itu ? Di hatimu.
- Kamu merasa gempa gak ??? ada kamu yang mengguncang hatiku sih.
-Kamu pake Indosat ya ??? Karena sinyal-sinyal cintamu sangat kuat sampai ke hatiku.
Kata Kata Gombal Romantis
- Tak mungkin aku berhenti mencintaimu. Aku hanya bisa belajar hidup tanpamu.
- Aku pengen bersamamu cuma pada dua waktu: SEKARANG dan SELAMANYA.
- Kau begitu kucinta, hingga ketika bersamamu mati seperti bisa kutunda, dan tanpamu, hidup serasa tiada guna.
- Aku nggak menangis karena kehilanganmu, tapi mengetahui kau tak pernah berusaha mencegahku pergi
- Aku tak pernah tau kebahagiaan sesungguhnya, sampai ketika aku mendapatkan cintamu. Dan aku tak pernah tau derita sebenarnya, sampai aku kini kehilangan itu. Terima kasih telah mengenalkanku pada kedua rasa yang tak akan kulupa.
- Aku selalu berusaha tak menangis karenamu, karena setiap butir yang jatuh, hanya makin mengingatkan, betapa aku tak bisa melepaskanmu.
- Saat aku nggak SMS ke kamu, bukan berarti aku melupakanmu, tapi aku hanya memberi waktu buat NGANGENIN AKU !!
- Aku tidak minta bintang atau bulan kepadamu. Cukup temani aku selamanya di bawah cahayanya
- Gimana kalo kita berdua jadi komplotan penjahat: Aku mencuri hatimu, dan kamu mencuri hatiku ?
Aku pengen bersamamu cuma pada dua waktu : SEKARANG dan SELAMANYA.
- Jika aku bisa jadi bagian dari dirimu, aku mau jadi air matamu, yang tersimpan di hatimu, lahir dari matamu, hidup di pipimu, dan mati di bibirmu.
- Aku selalu berusaha tak menangis karenamu, karena setiap butir yang jatuh, hanya makin mengingatkan, betapa aku tak bisa melepaskanmu.
- Andai sebuah bintang akan jatuh setiap kali aku mengingatmu, bulan pasti protes. Soalnya dia bakal sendirian di angkasa.
- Kenapa aku tetap menginginkanmu walau kamu tak pernah punya rasa yang sama. Masalahnya, begitu sulit membuatmu mencintaiku, lebih sulit lagi memaksa hatiku berhenti memikirkanmu.
- Dingin malam ini menusuk tulang. Kesendirian adalah kesepian. Maukah kau jadi selimut penghangat diriku ?
- Aku ingin mengaku dosa. Jangan pernah marah ya. Maafkan sebelumnya. Tadi malam aku mimpiin kamu jadi pacarku. Setelah bangun, akankah mimpiku jadi nyata?
Kata Kata Gombal Lucu
- Dulu aku heran, napa orang sampe berantem ? hanya karena cinta. Trus aku inget muka kamu, dan tiba-tiba, aku merasa siap menghadapi Perang Dunia Ketiga.
- Kalau kamu nanya berapa kali kamu datang ke pikiranku, jujur aja, cuma sekali. abisnya, ga pergi2 sih!
- Orangtuamu pengrajin bantal yah? Karena terasa nyaman jika di dekatmu.
- Sekarang aku gendutan gak sih ? kamu tau gak kenapa ? soalnya km udah mengembangkan cinta yang banyak dihatiku
- Tau ga knapa malem ini ga ada bintang ?? soalnya bintangnya pindah semua ke matamu?
- Jangan GR deh. Aku kangen kamu sedikit aja kok. Sedikit berlebihan maksudnya.
Cowok: Maaf mbak, jangan terlalu lama duduk dikursi itu, pindah deket saya saja?
Cewek: Loh? Emangnya kenapa??
Cowok: Biar gak dikerubung semut.. soalnya mbak manis sich?
Cowok : Aku didiagnosa Sakit jantung.
Cewek : Hah! Kok bisa?
Cowok : Iya. Jantungku selalu berdegup kencang bila dekat denganmu.
Cowok : Kemarin aku ke dokter mata. Kamu tau apa kata dokter?
Cewek : Apa? Parah?
Cowok : Kata dokter ada kamu di mataku.
Cowok : Kamu punya kunci apa aja sih?
Cewek : Kunci rumah, kunci mobil, kunci lemari. Emang ada apa?
Cowok : Punya nggak kunci untuk membuka hatimu kepadaku?
Cowok : Kamu punya peta nggak?
Cewek : Peta apa?
Cowok : Peta hatimu. Karena aku tersesat dan tak bisa keluar dari hatimu.
- Bapak kamu pasti seorang astronot ??? Soalnya aku melihat banyak bintang di matamu.
- Kamu pasti kuliah di seni pahat ya ??? Soalnya kamu pintar sekali memahat namamu di hatiku.
- Kakekmu pasti penambang ya ??? Soalnya banyak berlian di matamu.
- Kamu Mantan pencuri ya ??? Abisnya kamu mencuri hatiku sih!
Cowok : Aku suka senyum-senyum sendiri lho.
Cewek : Hah .. Gila Ya
Cowok : Nggak. Aku sedang mikirin kamu.
- Setiap malam aku berjalan-jalan di suatu tempat. Kamu tau di mana itu ? Di hatimu.
- Kamu merasa gempa gak ??? ada kamu yang mengguncang hatiku sih.
-Kamu pake Indosat ya ??? Karena sinyal-sinyal cintamu sangat kuat sampai ke hatiku.
Kata Kata Gombal Romantis
- Tak mungkin aku berhenti mencintaimu. Aku hanya bisa belajar hidup tanpamu.
- Aku pengen bersamamu cuma pada dua waktu: SEKARANG dan SELAMANYA.
- Kau begitu kucinta, hingga ketika bersamamu mati seperti bisa kutunda, dan tanpamu, hidup serasa tiada guna.
- Aku nggak menangis karena kehilanganmu, tapi mengetahui kau tak pernah berusaha mencegahku pergi
- Aku tak pernah tau kebahagiaan sesungguhnya, sampai ketika aku mendapatkan cintamu. Dan aku tak pernah tau derita sebenarnya, sampai aku kini kehilangan itu. Terima kasih telah mengenalkanku pada kedua rasa yang tak akan kulupa.
- Aku selalu berusaha tak menangis karenamu, karena setiap butir yang jatuh, hanya makin mengingatkan, betapa aku tak bisa melepaskanmu.
Langganan:
Postingan (Atom)





