SEJARAH TUBAN IV
SEJARAH KOTA TUBAN IV

Yang menjadi permulaan ceritera sejarah ini ialah pada waktu Negara
Pajajaran yang semula berpusat dekat Ciamis, diperintah oleh seorang
raja yang bernama Prabu Banjaransari.
Pada waktu sang Prabu
Banjaransari ini memerintah, keadaan Negara Pajajaran aman sejahtera dan
rakyatnya hidup makmur, sehingga nama sang Prabu Banjaransari
termasyhur bukan saja di dalam negeri, tetapi juga sampai di luar
negeri.
Sang Prabu Banjaransari mempunyai banyak putra, akan tetapi
sebagai pokok pangkal sejarah Tuban ini kita mengambil salah satu di
antara para putra sang Prabu Banjaransari tersebut, yakni Raden Arya
Metahun, yang kelak menurunkan para Bupati Tuban. Sang Prabu
Banjaransari berputra Raden Arya Metahun. Raden Arya Metahun berputra
Raden Arya Randu Kuning.
I. Kabupaten Lumajang Tengah
Raden
Arya Randu Kuning ini mengembara ke arah timur, dengan seizin neneknya
yakni sang Prabu Banjaransari. Sampai di sebelah utara Kalakwilis
Kecamatan Jenu Tuban. Raden Arya Randu Kuning menghentikan
pengembarannya, dan kemudian membuka Hutan Srikandi yang terletak di
tepi pantai dekat Gunung Kalakwilis untuk dijelmakan menjadi sebuah
negara. Berkat keinginan dan kemauannya untuk menjadi bupati disertai
dengan bekerja keras, maka lama-lama Hutan Srikandi menjadi sebuah
perkampungan, yang akhirnya menjadi sebuah kabupaten yang diberi nama
Kabupaten Lumajang Tengah dengan Raden Arya Randu Kuning sebagai
bupatinya, yang kemudian bergelar Kyai Ageng (Kyai Gede Lebe Lontong +
permulaan abad 12).
Alkisah ketika Kyai Gede Lebe Lontang menjadi
Bupati Lumajang Tengah negara dalam keadaan aman, sentosa, gemah ripah
loh jinawi, rakyat hidup makmur. Itu semuanya berkat kebijaksanaan dan
kesaktian yang menimbulkan pribawa pribadi sang Bupati Lebe Lontang yang
diperoleh dengan melakukan yoga, dan selalu berikhtiar dengan
menggunakan daya kekuatannya agar kerajaan dan rakyatnya selalu hidup
makmur, aman dan sejahtera.
Bekas wilayah Lumajang Tengah didapat
kembali dalam hutan sebelah timur laut tempat pemberhentian Kereta Pos
Bogang (Kecamatan Jenu).
Kyai Ageng Lebe Lontang ini menjadi bupati di Lumajang Tengah lamanya 22 tahun.
II. Kabupaten Gumenggeng
Kyai
Ageng Lebe Lontang berputra seorang bernama Raden Arya Bangah, yang
mempunyai kesaktian lebih dari ayahnya, lagi pula mempunyai paras yang
elok, sehingga para gadis remaja jatuh cinta dengan tidak disadari oleh
Arya Bangah.
Akan tetapi setelah ayahnya mangkat, Raden Arya Bangah
tidak mau diangkat menjadi Bupati Lumajang Tengah menggantikan ayahnya,
tetapi Raden Arya Bangah mempunyai keinginan keras akan mendirikan
kabupaten sendiri. Akhirnya diputuskan pergi mengembara menuju ke arah
selatan dengan diikuti keluarga dan rakyatnya. Setelah sampai di kaki
gunung Rengel, Raden Arya Bangah beserta pengikutnya menghentikan
perjalanan. Dan kemudian membuka hutan akan dijadikan perkampungan.
Lama-lama
perkampungan tersebut menjadi sebuah kabupaten yang diberi nama
Gumenggeng. Sebagaimana ayahnya, Kabupaten Gumenggeng ini menjadi
kabupaten yang aman sejahtera, dan rakyatnya hidup tenang dan makmur.
Bekas kabupaten tersebut sekarang menjadi Desa Banjaragung (Kecamatan
Rengel).
Raden Arya Bangah mempunyai seorang putra bernama Arya
Dandang Miring. Setelah memerintah 22 tahun, Raden Arya Bangah mangkat.
Semasa hidup ayahnya, Redan, Arya Dandang Miring ini suka bertapa,
kadang-kadang mengembara di tempat-tempat yang sunyi, dengan maksud
minta kepada para dewata, agar keturunannya kelak dapat menjadi bupati
prajurit dan negara yang akan diperintahnya selalu dalam keadaan aman
tenteram, lagi pula rakyatnya dapat hidup makmur. Karena sangat kuat dan
tabahnya Raden Arya Dandang Miring menyatukan cipta dan kehendaknya,
akhirnya permintaannya dikabulkan oleh dewata yang mulia dan dalam
bersamadi, Raden Arya Dandang Miring mendapatkan ilham yaitu : Semangkat
ayahnya kelak, ia tidak diperkenankan menjadi bupati di Gumenggeng,
sebab kalau tetap menjadi bupati di Gumenggeng, apa yang dicita-citakan
tidak akan tercapai. Untuk mencapai cita-cita itu ia harus membuka hutan
sendiri yang letaknya di sebelah barat laut dari Kabupaten Gumenggeng,
dan lagi kabupaten tersebut hanya khusus untuk Raden Arya Dandang Miring
sendiri. Permintaannya baru terkabul jika putranya kelak membuka hutan
yang bernama Papringan dan setelah dibuka, supaya diberi nama Tuban. Dan
putranya itulah kelak yang dapat menurunkan para Bupati Tuban turun
temurun dan Kabupaten Tuban akan menjadi kabupaten yang aman tenteram,
lagi rakyatnya hidup makmur sesuai dengan permintaannya, juga akan
menjadi tempat peristirahatan (makam) para wali atau para aulia dari
Negeri Arab, kalau sudah tiba waktunya. Zaman itu adalah zaman masuknya
kebudayaan Hindu di Pulau Nusantara dan menurut ramalan itu, kelak Tuban
akan memasuki babak baru dimana agama Islam mulai berkembang (3 abad
kemudian yaitu abad 15). Perintah Dewata yang mulia (ilham) yang
diterima itu, dilaksanakan oleh Raden Arya Dandang Miring.
III. Kabupaten Lumajang
Oleh
karenanya setelah ayahnya mangkat Raden Dandang Miring tidak mau
menggantikan ayahnya menjadi Bupati Gumenggeng, akan tetapi
memerintahkan kepada semua penggawa dan rakyatnya membuka hutan yang
bernama Ancer yang letaknya di sebelah barat laut Kabupaten Gumenggeng.
Setelah pembukaan hutan tersebut selesai, lalu diberi nama Lumajang.
Raden Arya Dandang Miring berputra seorang yang diberi nama Raden
Dandang Wacana, parasnya sangat bagus, sakti lagi berbudi maha pendeta
utama, dengan demikian sangat dikasihi oleh rakyatnya. Sedang Bupati
Raden Arya Dandang Miring memerintah Negara Lumajang dengan aman
sentosa, rakyat dan penggawa sangat kasih kepada beliau. Negara dan
rakyat dalam keadaan aman sentosa, sehingga penduduknya tidak mengenal
pencuri dan kekurangan. Setelah Raden Arya Dandang Miring memerintah
Lumajang selama 20 tahun, kemudian mangkat. Sebelum beliau mangkat,
beliau berpesan kepada putranya Raden Arya Dandang Wacana supaya
melakukan ilham yang diterima dari dewata mulia, yakni membuka Hutan
Papringan untuk dijadikan negara.
Semangat ayahnya, Raden Arya
Dandang Wacana melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Rakyat
beserta penggawa Kabupaten Lumajang, diperintahkan membuka Hutan
Papringan dan setelah pembukaan tersebut selesai, kemudian diberi nama
Tuban.
IV. Kabupaten Tuban
Pada waktu pembukaan Hutan
Papringan, keluarlah dengan tidak terduga Sumber Air, Metu Banyu (bahasa
Jawa) yang kemudian disingkat menjadi Tu-Ban, merupakan nama wilayah
kabupaten yang spontan diberikan oleh Raden Arya Dandang Wacana, sumber
air ini sangat sejuk dan meskipun terletak di tepi pantai utara Pulau
Jawa, mata air tadi tidak bergaram, lain halnya dengan pantai kota-kota
lainnya.

Bupati ke I
Dalam pemerintahan Raden Arya Dandang
Wacana negara dan rakyat selalu dalam keadaan aman dan sejahtera,
pencuri perampok tidak dikenal oleh penduduk. Sandang pangan
berlimpah-limpah, penduduk tak pernah merasa kekurangan. Siang malam
selalu ramai, hampir tak ada bedanya. Oleh karena itu penduduk sangat
cinta dan kasih kepada sang Bupati Raden Arya Dandang Wacana.
Setelah
3 tahun memegang pemerintahan Raden Arya Dandang Wacana memerintahkan
membuat Pesanggrahan. Pesanggrahan ini dikelilingi parit dan kolam,
ditanami dengan aneka macam pohon yang menyebabkan Pesanggrahan tersebut
rindang dan membuat pemandangan yang sangat indah dan menarik.
Pesanggrahan tersebut kini diberi nama “Bekti” dan nama ini diambilkan
dari kata “Pangabekti” (bahasa Jawa). Sebab jika sang Bupati Raden Arya
Dandang Wacana sedang beristirahat di Pesanggrahan tersebut, banyak
penggawa dan rakyat yang berdatang sembah (mengabekti). Dan sekarang
Pesanggrahan dan desa tersebut namanya menjadi “Bektiharjo” (Harjo =
rejo, banyak pengunjung). Perlu diketahui bahwa Raden Arya Dandang
Wacana juga berganti nama Kyai Gede Papringan. Setelah memerintah 20
tahun Bupati Dandang Wacana mangkat, jenazahnya dimakamkan di dekat
Kaligunting Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding.
Kabupaten
Tuban yang tersebut pertama tadi, sekarang menjadi 3 desa yakni : “Dukuh
Trowulan, Desa Prunggahan Kulon dan Desa Prunggahan Wetan.” Hingga
sekarang para wanita kelahiran 3 desa tersebut, terkenal akan
kecantikannya dan terdapat ciri khas yakni “dekik” (bahasa Jawa) pada
pipinya. Kecantikan wanita-wanita tersebut bagaikan bidadari yang
mengejawantah, oleh karena itu para pemuda boleh pilih untuk dijadikan
teman hidupnya. Agar mudah diingat, para bupati yang pernah memerintah
dalam Kabupaten Tuban, kami beri nomor urut.
Bupati pertama dari
Kabupaten Tuban ialah Raden Arya Dandang Wacana (Kyai Ageng Papringan,
sebab Raden Arya Dandang Wacanalah yang mendirikan kabupaten dengan nama
Tuban. Menurut babad Tuban karangan E.J. Jasper, Tuban merupakan daerah
Andahan, (vazalstaat) dari Majapahit, sejak Arya Dikara menjadi Bupati
Tuban, bupati yang terakhir ini (yang ke 6 dari daftar Bupati Tuban)
setelah mempunyai menantu Syeh Ngabdur¬rahman, kemudian memeluk agama
Islam (abad ke15). Kyai Ageng Papringan berputra 2 orang, yakni Nyai
Ageng Lanang Jaya dan Nyai Ageng Ngeksa. Nyai Ageng Lanang Jaya berputra
seorang yang diberi nama Raden Ronggolawe, Nyai Ageng Ngeksa berputra
seorang yang diberi nama Raden Arya Kebo Anabrang.
Bupati ke II
Setelah
neneknya mangkat (Kyai Ageng Papringan) yang menggantikan jadi bupati
yakni cucunya Raden Hariyo Ronggolawe. Setelah Raden Hariyo Ronggolawe
memegang tampuk pemerintahan, rumah kabupaten dipindah sebelah barat
Guwo Akbar. Bekas kabupaten sekarang dipergunakan untuk makam Bakung
Kecamatan Semanding).
Bupati ke III
Sesudah Raden Ronggolawe
mangkat, Raden Sirolawe menggantikan ayahnya menjadi Bupati Tuban.
Beliau memerintah selama 15 tahun dan mangkat.
Bupati ke IV
Raden
Hariyo Sirolawe berputra seorang bernama Raden Hariyo Sirowenang dan
setelah ayahnya mangkat ia menjadi bupati. Pemerintahan Sirolawe
berlangsung selama 43 tahun.
Bupati ke V
Setelah Raden Hariyo
Sirowenang mangkat, diganti oleh puteranya, Raden Hariyo Lena.
Pemerintahan berlangsung selama + 52 tahun dan pada pemerintahannya
rumah kabupaten dipindahkan ke Desa Doromukti (Kecamatan Kota Tuban).
Bupati ke VI
Setelah
mangkatnya Raden Hariyo Leno, Raden Hariyo Dikara puteranya
menggantikan menjadi bupati. Beliau memerintah selama 18 tahun dan
kabupatennya berdiri tetap di Desa Doromukti. Beliau mempunyai putera 2
orang yakni : Raden Ayu Hariyo Tejo dan Kyai Ageng Ngraseh. Kemudian
Raden Ayu Hariyo Tejo menjadi isteri Syeh Ngabdurahman, putera Syeh
Jali/Syeh Jalaludin/Kyai Makam Dawa/Ngalimurtala dari Gresik (saudara
Sunan Ngampel). Sejak pemerintahan Bupati Raden Dikara, Bupati Tuban
memeluk agama Islam.
Bupati ke VII
Setelah Bupati Raden Hariyo
Dikara mangkat yang menggan¬tikan menantunya Syeh Ngabdurahman dan
kemudian berganti nama Raden Hariyo Tejo. Beliau memerintah selama + 41
tahun (tahun 1460). Dibawah pemerintahan Bupati Raden Hariyo Tejo
inilah, maka Tuban sebagai daerah andalan Majapahit, turut memberontak
membantu Raden Patah melawan Brawijaya. Majapahit jatuh kedalam
kekuasaan Raden Patah tahun 1478, yang kemudian menjadi Sultan Demak dan
sejak itu Tuban ada di bawah Demak.
Bupati ke VIII
Raden Hariyo
Tejo mempunyai seorang putera yang diberi nama Raden Hariyo Wilatikta
dan setelah ayahnya mangkat, beliau yang menggantikan. Pemerintahan
Bupati Hariyo Wilatikta ini berlangsung selama + 40 tahun.
Bupati ke IX
Setelah
Raden Hariyo Wilatikta mangkat, yang menggantikan menjadi bupati ialah
Kyai Ageng Ngraseh, yang kemudian kawin dengan Putera Raden Hariyo
Wilatikta. Setelah memerintah + 40 tahun mangkat.
Bupati ke X
Perkawinan
Kyai Ageng Ngraseh dengan putra putri Raden Hariyo Wilatikta berputera
seorang yang diberi nama Kyai Ageng Gegilang yang kemudian menggantikan
ayahnya. Pemerintahannya berlangsung selama + 38 tahun.
Bupati ke XI
Penggantian
Kyai Ageng Gegilang ialah yang bernama Kyai Ageng Batabang. Beliau
mangkat setelah memerintah selama 14 tahun lamanya.
Bupati ke XII
Pengganti
Bupati Kyai Ageng Batabang ini putra tunggalnya ialah Raden Hariyo
Balewot. Beliau memerintah selama + 56 tahun kemudian mangkat.
Bupati ke XIII
Bupati
Hariyo Balewot mempunyai 2 orang putra yakni Pangeran Sekartanjung dan
Pangeran Ngangsar. Setelah Bupati Raden Hariyo Balewot mangkat yang
menggantikan ialah puteranya sulung yaitu Pangeran Sekartanjung.
Bupati
ini terbunuh waktu beliau sedang bersembahyang Jum’at dengan ditusuk
Pusaka Lilam Upih yang bernama Kyai Loyan dari belakang oleh adiknya
yaitu Pangeran Ngangsar. Tusukan ini menembus punggung dan dada dan
akhirnya Bupati Pangeran Sekartanjung mangkat. Pemerintahannya
berlangsung selama + 22 tahun dan mempunyai putra 2 orang yaitu Pangeran
Hariyo Permalat dan Hariyo Salampe, waktu ayahnya mangkat kedua
putranya masih kecil.
Bupati ke XIV
Pengganti Bupati Pangeran Sekartanjung ialah adiknya Pangeran Ngangsar. Baru memerintah 7 tahun beliau mangkat.
Bupati ke XV
Setelah
Bupati Pangeran Ngangsar mangkat, yang menggantikan ialah Pangeran
Hariyo Permalat, sekira pada tahun 1568 bupati ini kemudian kawin dengan
putra putri Kanjeng Sultan Pajang (Raden Jaka Tingkir), Raden Jaka
Tingkir menjadi Sultan Pajang tahun 1568 dan Tuban termasuk daerah
kekuasaannya.
Beliau mempunyai seorang putra diberi nama Pangeran
Dalem. Setelah memerintah selama + 38 tahun kemudian mangkat, pada masa
itu Pangeran Dalem masih kecil.
Bupati ke XVI
Karena Pangeran
Dalem masih kecil, maka yang menggantikan Bupati Pangeran Hariyo
Permalat ialah Hariyo Salampe. Pemerintahan bupati ini berlangsung
selama + 32 tahun dan kemudian mangkat.
Bupati ke XVII
Setelah
Bupati Hariyo Salampe mangkat, digantikan oleh Pangeran Dalem. Pada
masa pemerintahan, beliau memindah rumah kabupaten ke Kampung Dagan
(Kota Tuban) sebelah selatan Watu tiban. Di samping itu beliau
mendirikan masjid dan benteng di luar kota, terletak di Guwo Akbar
membujur dari timur ke barat. Pembuatan benteng ini, Kyai Mohammad
Asngari yang ditugaskan, sebagian dari benteng ternyata belum dapat
diselesaikan pada waktunya. Dan ketika hal ini diketahui oleh Bupati
Pangeran Dalem, Kyai Mohamad Asngari dipanggil menghadap ke kabupaten.
Setelah Kyai Mohamad Asngari menghadap, Bupati Pangeran Dalem
memerintahkan agar benteng tersebut lekas dapat, diselesaikan, dan
bilamana tidak, Kyai Mohammad Asngari akan menerima hukuman, hal mana
disanggupi. Dengan hati sedih Kyai pulang dan pada malam harinya ia
bersamadi. Permintaannya, dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa dan pada pagi
harinya benteng yang dimaksud telah jadi dengan megahnya. Hal mana
sangat mengagumkan penduduk di sekitarnya juga Bupati Pangeran Dalem.
Karena indah lagi besar, maka benteng tersebut oleh Pangeran Dalem
diberi nama Benteng Kumbakarna. Dan sejak itu pulalah maka Kyai Mohammad
Asngari termashur karena kesaktian ilmunya.
Hal pembuatan benteng
terdengar juga oleh Sultan Mataram Hanyakra Kusuma saudara dari
Martadipura putra dari Panembahan Seda Krapyak (Panembahan Seda Krapyak
putra dari Sutawijaya), dan diketahui pula bahwa Bupati Pangeran Dalem
akan melepaskan diri dari Sultan Mataram (1614). Hal tersebut dapat
diketahui oleh Sri Sultan dengan bukti Benteng Kumbakarna yang didirikan
oleh Bupati Pangeran Dalem. Untuk membuktikan dugaan tersebut Sri
Sultan secara diam-diam mengirimkan utusan ke Tuban untuk menyelidiki
akan kebenarannya. Yang mendapat tugas menjadi mata-mata ialah Kyai
Randu Watang. Dalam menjalankan tugas mata-mata tersebut, Kyai Randu
Watang setibanya di Tuban menanam 2 batang pohon randu alas sebagai
tanda bukti bahwa Kyai Randu Watang telah sampai di Tuban. Tugas yang
diberikan oleh Sri Sultan dapat dilaksanakan dengan baik, dan dapat
diketahui olehnya bahwa benar-benar Bupati Pangeran Dalem ingin
melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Kemudian ia lekas-lekas kembali
ke Mataram untuk melaporkan hal tersebut kepada Sri Sultan. Setelah Sri
Sultan mendengarkan laporan itu beliau sangat murka. Untuk mencegah
maksud Bupati Pangeran Dalem tersebut, Sri Sultan mengirimkan 35.000
orang prajurit yang dipimpin oleh Pangeran Pojok ke Tuban.
Sebaliknya
Bupati Pangeran Dalem setelah mendengar bahwa Prajurit Mataram akan
menyerang Tuban, beliau memerintahkan kepada semua prajurit berjaga-jaga
akan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kedatangan prajurit-prajurit
Mataram disambut dengan pertempuran oleh Prajurit Tuban. Pertumpahan
darah terjadi, dan kedua belah pihak menderita kerugian yang besar.
Mula-mula prajurit-prajurit Tuban disemua medan mendapat kemenangan,
tetapi karena jumlah prajurit Mataram lebih banyak, maka akhirnya
Prajurit Tuban banyak yang lari dan menyerah (1619). Setelah diketahui
bahwa Prajurit Tuban banyak yang lari dan menyerah Bupati Pangeran Dalem
melarikan diri ke Pulau Bawean. Tetapi di Pulau Bawean beliau tidak
lama tinggal kemudian pergi ke Desa Rajekwesi (Bojonegoro sekarang).
Pada waktu itu Rajekwesi masih merupakan hutan dan di bawah pemerintahan
Jipang Panolan. Setelah menetap 5 tahun lamanya di Rajekwesi, Pangeran
Dalem mangkat dan dimakamkan di Desa Kadipaten terletak di sebelah timur
Kota Bojonegoro.
Hingga kini makam tersebut masih ada, terkenal
dengan nama makam Buyut Dalem. Pada waktu peperangan sedang berkobar,
meriam pusaka Kyai Sidomurti yang ditempatkan di Desa Kepohdondong
(Palang) hilang tak berbekas. Menurut E.J. Jasper, meriam tersebut asal
hadiah dari Portugis atau dari Belanda dan jatuh di tangan Tentara
Mataram. Setelah peperangan berakhir dengan kekalahan Tuban, Pangeran
Pojok segera memberi laporan kepada Sri Sultan. Atas perintah Sri
Sultan, Pangeran Pojok diizinkan menjadi bupati di Tuban.
Bupati ke XVIII
Pangeran
Pojok memegang pemerintahan selama + 42 tahun. Pada Hari Gerebeg Maulud
tahun Dal semua bupati di seluruh tanah Jawa datang ke Mataram untuk
menghadap Sri Sultan. Demikian pula halnya dengan Bupati Pangeran Pojok.
Tetapi ketika perjalanan beliau menuju Mataram sampai Blora, beliau
mendadak sakit dan mangkat di situ juga. Jenazahnya dimakamkan di
sebelah selatan alun-alun Blora. Pada waktu beliau mangkat para putra
masih kecil, oleh karena itu tidak dapat menggantikan jadi bupati.
Bupati ke XIX
Penggantinya
ialah Pangeran Anom adik Pangeran Pojok. Dan setelah Pangeran Anom
memegang pemerintahan selama 12 tahun atas perintah Sri Sultan, Pangeran
Anom diberhentikan dari jabatan. Di Kabupaten Tuban untuk sementara
waktu, jabatan bupati ditiadakan dan hanya diberi perwakilan (Umbul) 4
orang yakni : 1. Wongsoprojo bertempat di Jenu, 2. Wongsohito bertempat
di Gresik, 3. Wongsocokro di Kidulngardi, 4. Yudoputro bertempat di
Singgahan.
Bupati ke XX
Selanjutnya yang jadi bupati ialah
Pangeran Sujokopuro atau Yudonegoro dan kabupaten bertempat di
Prunggahan Kulon (Kecamatan Semanding).
Bupati ke XXI
Untuk
mengisi lowongan jabatan bupati di Tuban, setelah Yudonegoro, oleh Sri
Sultan diangkat Arya Balabar atau Arya Blender asal dari Mataram. Dan
pemerintahan Arya Blender, rumah kabupaten dipindahkan ke Kampung
Kaibon yang terletak di sebelah selatan makam Kyai Kusen (Kota Tuban).
Beliau mangkat setelah memerintah + 39 tahun, membuat masjid sebelah
barat makam Sunan Bonang.
Bupati ke XXII
Pengganti Bupati Arya
Balabar ialah Pangeran Sujonoputro, Bupati Japanan (Mojokerto). Pada
masa pemerintahan bupati ini rumah kabupaten dipindahkan ke Desa
Prunggahan (Semanding), pemerintahan beliau berlangsung selama 10 tahun,
kemudian mangkat dan dimakamkan di Desa Boto.
Bupati ke XXIII
Yang menggantikan ialah Putra Pangeran Judonegoro. Beliau mangkat setelah memerintah 15 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Giri.
Bupati ke XXIV
Setelah
Bupati Pangeran Yudonegoro mangkat, penggantinya adalah Raden Arya
Surodiningrat, bupati dari Pekalongan. Pada masa pemerintahan Raden Arya
Surodiningrat, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Arya
Diposono dan dibantu oleh Kyai Mangunjoyo asal dari Madura. Bupati Arya
Surodiningrat mangkat dalam peperangan melawan kaum pemberontak setelah
memegang pemerintahan selama 12 tahun lamanya.
Bupati ke XXV
Setelah
dapat mengalahkan Bupati Raden Arya Suryodiningrat, Raden Aryo Diposono
menggantikan jadi bupati. Setelah 16 tahun lamanya beliau memerintah
Kabupaten Tuban, terjadilah peperangan melawan orang Madura. Peperangan
ini berlangsung di Desa Singkul atau Sedayu. Raden Aryo Diposono mangkat
dalam peperangan ini. Jenazahnya dimakamkan di Desa Singkul juga.
Bupati ke XXVI
Kyai
Reksonegoro Patih Tuban setelah itu menjadi bupati berganti nama Kyai
Tumenggung Cokronegoro. Mangkat setelah memerintah selama 47 tahun.
Jenazahnya dimakamkan di Desa Dagangan (Kecamatan Parengan). Karena
banyak berjasa kepada negara, Kyai Tumenggung Cokronegoro diberi pangkat
kehormatan “Adipati”, Menurut J.E. Jasper tahun 1773 Gubernur van de
Burgh mengusulkan pada Sultan Mataram supaya Bupati Tuban Mas
Reksonegoro atau Mas Tumenggung Cokronegoro dipecat, karena
pemerintahannya memberatkan penduduk dan tak dapat memenuhi tugasnya
membayar upeti pada pemerintahan Belanda.
Bupati ke XXVII
Pengganti
Adipati Cokronegoro ialah putranya yakni Kyai Purwonegoro. Ketika
pemerintahan Bupati Purwonegoro ini berlangsung + 24 tahun, beliau sakit
dan mengambil perlop atau cuti dan pergi ke Demak. Sakit beliau tidak
berkurang, bahkan makin parah, akhirnya mangkat dan jenazahnya
dimakamkan di Demak juga. Bupati Purwonegoro juga terkenal dengan
sebutan Bupati Perlop, yakni asal dari kata “perlop” atau “cuti”.
Bupati ke XXVIII
Setelah
Bupati Purwonegoro mangkat, penggantinya ialah Bupati Kyai Lieder
Surodinegoro (Lieder = Ridder in de Orde van Oranje Nassau = nama
bintang jasa). Pemerintahan Bupati Kyai Lieder Surodinegoro ini hanya
berlangsung selama 3 tahun dan kemudian mangkat.
Bupati ke XXIX
Setelah
Bupati Lieder Suryoadiwijoyo mangkat, diganti oleh putranya, yakni
Raden Suryoadiwijoyo atau Raden Tumenggung Suryodinegoro. Pada masa
pemerintahannya beliau memerintahkan memindah rumah kabupaten ke Kampung
Gowah (Desa Sendangharjo Tuban). Pembuatan rumah kabupaten ini dapat
diselesaikan pada tanggal 1 Juli 1814. Pemerintahan Bupati Raden
Suryoadinegoro ini berlangsung selama 12 tahun dan berhenti.
Bupati ke XXX
Pengganti
Bupati Raden Suryoadinegoro ini adalah Bupati Pangeran Citrasoma ke VI,
asal Bupati Jepara atau nomor VI urutan dari Jepara. Pemerintahan
Bupati Pangeran Citrasoma ke VI ha¬nya berlangsung selama 6 tahun,
kemudian dipindahkan ke Lasem. Selama 3 tahun, terus dipindahkan lagi ke
Jepara. Pembuatan ru¬mah kabupaten tahun 1821, yang menjadi tempat
kediaman para bupati sampai sekarang.
Bupati ke XXXI
Pengganti
Bupati Pangeran Citrasoma ke VI ini ialah Bupati Pangeran Citrasoma ke
VII atau dihitung dari Tuban, Citrasoma II. Setelah memerintah selama 20
tahun mangkat.
Bupati ke XXXII
Pengganti Bupati Citrasoma ke
VII ialah Bupati Pangeran Citrasoma ke VIII atau dari Tuban ke III.
Memerintah selama 20 tahun, kemudian pensiun.
Bupati ke XXXIII
Pengganti
Bupati Pangeran Citrasoma ke VIII, ialah Bupati Raden Tumenggung Panji
Citrasoma ke IX atau Tuban ke IV, setelah memerintah 22 tahun kemudian
dipensiun.
Bupati ke XXXIV
Setelah Bupati Raden Tumenggung
Citrasoma ke IX pensiun, diganti oleh Raden Mas Somobroto tahun 1892,
setelah memerintah 4 bulan mangkat, jenazahnya dimakamkan di makam
Astana Bonang.
Bupati ke XXXV
Setelah Raden Mas Tumenggung
Somobroto mangkat diganti oleh menantunya ialah Raden Adipati Arya
Kusumodigdo. Beliau mangkat setelah memerintah selama 16 tahun dan
jenazahnya dimakamkan di Astana Makampati Tuban (tahun 1893¬1911).
Bupati ke XXXVI
Pengganti
Raden Adipati Arya Kusumodigdo kakaknya Raden Tumenggung Pringgowinoto
asal Patih Rembang 1911-1919. Pada tahun 1920 di Tuban dimulai jalan
Kereta Api NIS.
BUPATI KE XXXVII : R.AA. PRINGGODIGDO/KUSUMODININGRTA 1919-1927
BUPATI KE XXXVIII : R.M.A.A. KUSUMOBROTO 1927-1944
BUPATI KE XXXIX : R.T. SUDIMAN HADIATMODJO 1944-1946
BUPATI KE XL : R.H. Mustain 1946-1956
BUPATI KE XLI : R. Sundaru 1956-1958
BUPATI KE XLII : R. Istomo 1958-1960
BUPATI KE XLIII : M. Widagdo 1960-1968
BUPATI KE XLIV : R. Soeparmo 1968-1970 (p.d.) (Penyusun Catatan Sejarah Tuban)
BUPATI KE XLV : R. H. Irchamni 1970-1975
BUPATI KE XLVI : H. Moch. Masdoeki 1975-1980
BUPATI KE XLVII : Surati Moersam 1980 - 1985
BUPATI KE XLVIII : Drs. Djoewahiri Marto Prawiro 1985 - 1991
BUPATI KE XLIX : Drs. H. Sjoekoer Soetomo 1991-
BUPATI KE XLX : Hindarto 1996 - 2001
BUPATI KE XLXI : Dra. Haeny Relawati Rini Widiastuti, MSi 2001 - sampai sekarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar